Samarinda (ANTARA Kaltim) - Sebuah lembaga independen nonprofit yang bergerak di bidang perlindungan hutan dan satwa liar "Protection of Forest and Fauna atau Profauna, menemukan aksesoris berbahan karapas penyu sisik yang dijual saat pelaksanaan ekspo di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

"Saat ekspo di Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau beberapa waktu lalu, kami menemukan ada tujuh stan yang secara terang-terangan menjual aksesoris yang terbuat dari karapas penyu sisik," ujar Koordinator Profauna Borneo, Bayu Sandi, dihubungi dari Samarinda, Senin.

Dari tujuh stan tersebut kata Bayu Sandi, terdapat sekitar 200 jenis aksesoris terbuat dari karapas penyu sisik yang dijual pada ekspo di Tanjung Redeb.

"Saat itu, kami memperingatkan bahwa menjual aksesoris berbahan penyu tersebut dilarang dan mengancam akan melaporkannya ke polisi. Namun, para penjual memohon agar tidak dilaporkan dan beralasan menjual aksesoris berbahan karapas penyu itu hanya menghabiskan stok yang dan berjanji tidak akan berjualan lagi," jelas Bayu sandi.

Selain menemukan tujuh stan pada ekspo, Profauna juga lanjut Bayu Sandi, sempat menemukan enam toko di Kota Tanjung Redeb yang juga menjual aksesoris berbahan karapas sisik penyu.

Dari penelusuran Profauna terhadap enam toko itu tambahnya, para penjual mengaku bahwa terdapat tiga suplier dari Pulau Derawan yang secara rutin mengirim aksesoris berbahan karapas penyu sisik itu kepada mereka.

"Kami sudah mengajak agar mereka berhenti berjualan aksosoris berbahan karapas penyu sisik dan dari pemantauan yang kami lakukan secara spontan, keenam toko tersebut memang sudah tidak lagi menjual aksesoris tersebut," kata Bayu Sandi.

Dari pemantauan terakhir yang dilakukan Profauna kata Bayu Sandi, saat ini terdapat 20 lapak dan toko di kawasan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, masih berjualan berbagai aksesoris berbahan karapas penyu.

"Dari data terakhir, kami menemukan ada 17 lapak musiman artinya, mereka buka pada setiap akhir pekan dan libur nasional dan tiga toko yang setiap hari buka, masih berjualan berbagai aksesoris berbahan karapas penyu," ujarnya.

"Namun, kami juga sulit melacak mereka sebab personel Profauna sudah dikenali para pedagang sehingga saat tim kami turun ke lapangan mereka langsung menyembunyikan aksesoris dari karapas penyu itu. Tapi dari hasil pemantauan itu, kami berhasil mencatat setidaknya ada tiga toko dan 17 lapak musiman yang menjual aksesoris berbahan karapas penyu tersebut," tutur Bayu Sandi.

Dari temuan tersebut lanjutnya, para penjual aksesoris berbahan karapas penyu itu umumnya masyarakat lokal, sebagian ada yang hanya menjual tetapi ada juga pengrajin yang mengerjakan aksesoris di lapak mereka.

"Sungguh ironis, penjualan aksesoris terbuat karapas penyus sisik di Pulau Derawan yang merupakan salah satu destinasi wisata dilakukan secara terang-terangan. Padahal, di kawasan itu ada personel kepolisian dan TNI tetapi kenyataannya mereka bebas berjualan," kata Bayu Sandi. (*)

Pewarta: Amirullah

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2016