Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur meminta desa dan kelurahan untuk memetakan sumber air dan embung di wilayah masing-masing guna mengantisipasi musim kemarau yang diprakirakan lebih kering dan panjang.
"Kemarau berpotensi mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan, kekeringan dan gagal panen," ujar Kepala BPBD Penajam Paser Utara Nurlaila, Selasa, ketika ditanya menyangkut antisipasi musim kemarau.
Kewaspadaan potensi bencana pada musim kemarau, kata dia, difokuskan kepada hasil panen petani, karena lahan pertanian di Penajam Paser Utara masih mengandalkan sistem pengairan tadah hujan.
Desa dan kelurahan diminta untuk memetakan potensi sumber air dan penampung air (embung) yang dapat digunakan sebagai pengairan lahan pertanian maupun untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.
Pemetaan sumber air dan embung tersebut sangat penting, jelas dia, untuk mengantisipasi terjadinya bencana kekeringan yang dapat berdampak terhadap hasil panen tanaman pangan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau pada tahun ini lebih kering dan panjang, dan bakal berdampak terhadap sektor pertanian dan perkebunan.
BPBD Penajam Paser Utara melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan setempat untuk melakukan mitigasi terhadap risiko gagal panen petani saat musim kemarau.
"Saat ini curah hujan mulai menurun, ketika kemarau bisa mengakibatkan hasil panen tidak optimal terancam gagal panen," katanya.
Menurunnya curah hujan, kata dia, dikhawatirkan mempengaruhi kelangsungan ketahanan pangan di Kabupaten Penajam Paser Utara, yang masih mengandalkan tadah hujan untuk pengairan atau irigasi pertanian.
Baca juga: Penajam tingkatkan kesiapsiagaan antisipasi bencana alam
Editor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2026