Perwakilan BKKBN Kalimantan Timur (Kaltim) fokus melakukan mitigasi stunting di daerah yang beririsan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN), terutama di Kabupaten Penajam Paser Utara yang memiliki prevalensi stunting tinggi.
"Prevalensi stunting di Penajam Paser Utara tergolong tinggi mencapai 32 persen, padahal daerah ini beririsan dengan IKN," ujar Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim Nurizky Permanajati saat Rakorda Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana 2025 di Samarinda, Kamis.
Fokus penanganan di Kabupaten PPU dinilai penting karena ke depan tingkat persaingan di IKN dipastikan tinggi, karena biasanya akan banyak warga luar yang mengadu nasib di ibu kota negara.
Di sisi lain, lanjutnya, dengan tingginya angka stunting hari ini di kabupaten itu, maka dalam jangka panjang hingga 20 tahun ke depan, mereka akan sulit bersaing karena stunting bukan soal tubuh kerdil, tapi secara SDM juga tergolong sulit, sehingga perlu penanganan intensif.
Selain melakukan penanganan terhadap anak yang terlanjur stunting, pihaknya bersama pihak terkait dengan melibatkan pentahelix juga berupaya agar tidak muncul stunting baru, sehingga yang menjadi penekanan antara lain keluarga yang berpotensi melahirkan anak stunting, calon pengantin, pasangan usia subur, masalah sanitasi, dan faktor lainnya.
Terkait dengan rakor yang digelar dengan melibatkan pihak terkait baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, ia mengatakan kegiatan itu untuk membangun komitmen kolaborasi lintas sektor dan pentahelix, untuk menjawab berbagai tantangan yang terjadi.
"Kaltim punya posisi sangat strategis karena IKN ada di sini, dengan potensi luar biasa ini, tentu banyak menghadapi tantangan, maka kami punya dua fokus yaitu fokus terhadap pengelolaan penduduk dan pengelolaan keluarga," katanya.
Pengelolaan penduduk, lanjut dia, areanya berupa pengaturan jumlah penduduk, migrasi, urbanisasi, termasuk tantangan bonus demografi, sehingga hal ini menjadi perhatian serius bagi Kemendukbangga/BKKBN.
"Sedangkan untuk pengelolaan keluarga, kita punya tantangan masalah keluarga seperti pernikahan dini di Kaltim masih tinggi, kemudian kesehatan ibu anak, peran ayah dalam keluarga, dan lainnya. Ini pun terus menjadi perhatian, sehingga kemudian muncul Program Quick Wins," katanya.
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2025