Nunukan (ANTARA Kaltim) -  Puluhan warga Nunukan, Kalimantan Utara mempertanyakan soal pembatasan atau penguarangan jatah bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk masyarakat di daerah itu.

Sulaeman, koordinator puluhan warga yang menggelar unjuk rasa di Kantor Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Nunukan, Kamis mempertanyakan alasan pengurangan atau pembatasan jatah bahan bakar minyak (BBM) subsidi.

Mereka mengaku terpaksa melakukan unjuk rasa karena jatah BBM bersubsidi dikurangi sehingga merugikan masyarakat.

Ia mengungkapkan, selama ini warga diberikan kesempatan mengisi BBM subsidi di agen premium, minyak dan solar (APMS) sekali dalam dua hari dengan jatah sekali mengisi 35 liter.

Namun, katanya, saat ini selama ada aturan pembatasan BBM subsidi hanya diperbolehkan mengisi sekali dalam empat hari dengan jatah yang sama sementara premium di APMS telah habis hanya dalam dua hari saja.

"Bagaimana bisa mencukupi kalau kami hanya diperbolehkan mengisi minyak (premium) di APMS sekali dalam empat hari sementara APMS hanya buka dua hari dalam sepekan," kata Sulaemana.

Ia mengatakan kebutuhan BBM bersubsidi untuk kelancaran usahanya menjual pakaian keliling cukup tinggi makanya apabila pengisian di APMS hanya sekali dalam empat hari, maka pihaknya akan merugikan.

Menurut dia, pengisian BBM sekali dalam dua hari saja seringkali tidak mencukupi tetapi masih dapat memaklumi dengan pertimbangan untuk memberikan kesempatan mengisi BBM subsidi kepada pemilik kendaraan lainnya.

"Jatah 35 liter dalam dua hari itu sebenarnya tidak mencukupi tapi kami masih maklumi supaya pemilik kendaraan lainnya pun mendapatkan kesempatan mengisi BBM (subsidi) di APMS," ujar dia.

Warga yang menggelar unjuk rasa itu meminta penjelasan dari Distamben setempat agar bertindak adil terhadap seluruh sopir kendaraan roda empat dalam arti tidak membeda-bedakan sistem pelayanannya. (*)

Pewarta: M.Rusman

Editor : Rahmad


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2014