Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberikan sertifikat kepada Pemerintah Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu karena menjadi salah satu kabupaten di Indonesia yang dinyatakan bebas malaria.
 
Sertifikat bebas dari malaria diserahkan Sekjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) mewakili Menteri Kesehatan kepada Bupati Mukomuko Sapuan, di acara puncak Peringatan Hari Malaria Sedunia Tahun 2022 yang digelar di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Selasa (31/5).
 
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mukomuko Bustam Bustomo melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Jajad Sudrajat, di Mukomuko mengatakan daerah ini mendapatkan sertifikat bebas malaria berdasarkan hasil penilaian tim Kemenkes.
 
Tim dari Kementerian Kesehatan RI sebelum melakukan penilaian dan "assesment" kegiatan eliminasi malaria ke sebanyak 17 puskesmas yang tersebar di daerah ini tahun 2021.
 
Ia menyebutkan, ada sejumlah indikator yang dinilai untuk mendapatkan sertifikasi bebas malaria tersebut, yakni "Annual Parasite Incidence" (API) kurang dari 1:1.000 penduduk, "Slide Positive Rate" kurang dari lima persen, dan tidak ada kasus "indigenous".
 
Menurutnya, sejumlah indikator itu harus dipertahankan selama tiga tahun berturut-turut, dan daerah ini mampu mempertahankan sejumlah indikator itu sejak tahun 2019.
 
Ia mengatakan, daerah ini sejak tahun 2019 tidak ada kasus malaria, namun tahun 2020 ada atau kasus malaria tetapi kasus itu impor atau berasal dari luar daerah ini.
 
"Ada warga setempat yang merantau keluar daerah, setelah sakit dia pulang ke Mukomuko dan setelah diperiksa ternyata yang bersangkutan ini dinyatakan positif malaria," ujarnya.
 
Ia menyatakan, meskipun warga ini mendapatkan penyakit malaria dari luar daerah ini, namun petugas kesehatan tetap melakukan berbagai upaya guna mencegah penularan penyakit ini kepada warga setempat.

Ia berharap, dengan adanya sertifikat bebas malaria ini sehingga warga dari luar daerah termasuk investor tidak khawatir untuk tinggal dan berinvestasi di daerah ini karena mereka tidak takut terkena penyakit akibat gigitan nyamuk.***3***
 

Pewarta: Ferri Aryanto

Editor : Gunawan Wibisono


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2022