"Penolakan ratusan kepala Keluarga ini dengan alasan program Plasma Sawit hanya akan memperkaya pemilik perusahaan, dan juga untuk menghindari timbulnya persoalan dan konflik sesama warga petani," kata Hasan Nawawi, di Sangatta, Rabu.
Menurut Hasan Nawawi, warga dua desa yang menolak program plasma sawit, ada beberapa alasan dan pertimbangan, misalnya petani hanya mendapatkan pembagian yang tidak sesuai dan keuntungan hanya dinikmati pemilik perusahaan.
Selain itu kata Hasan Nawawi, selama program plasma itu berjalan, maka selama itu juga pihaknya punya utang dengan perusahaan melalui Koperasi, jadi kalau dihitung-hitung tidak untung, justru sebaliknya petani rugi.
"Saat produksi nanti jelas kami punya utang dengan perusahaan, karena dipotong biaya operasional seperti perawatan, obat-obatan, pupuk dan lainnya, sehingga kecil sekali yang kami dapatkan,"
Pertimbangan lain adalah usia produksi kelapa sawit hanya bertahan beberapa tahun saja, paling lama sepuluh tahun bisa berproduksi, setelah itu mulai berkurang sedangkan biaya operasional akan semakin tinggi dan besar.
"Kalau dibandingkan dengan jenis tanaman lain seperti karet justru lebih tepat dan cocok dengan kondisi wilayah dan sesuai dengan keinginan petani disana," kata Hasan pria asal Jawa Timur yang mengaku sejak 1974 sudah menikahi gadis suku dayak.
Pertimbangan lain adalah menghindari munculnya knflik kepentingan sesama petani yang selama ini sangat akur dan sangat harmonis.
"Kami tidak ingin gara-gara plasma ini terjadi persoalan besar seperti yang terjadi di daerah lain di Indonesia bahkan sudah terjadi di beberapa Kecamatan di Kabupaten Kutai Timur, seperti di Kecamatan Long Masengat, Rantau Pulung, Kaubun dan Kaliorang serta Kecamatan Bengalon," katanya.
Sudah banyak contoh terjadi, dimana petani dengan petani saling serang, dan petani dengan perusahaan bahkan dengan pemerintah daerah.
Camat Kecamatan Busang Darius Jiu, yang dihubungi, membenarkan warga desa Long Bentuk menolak program plasma sawit dengan alasan biaya perawatan tinggi dan hasilnya tidak meningkatkan kesejahteraan petani dalam jangka panjang.
"Warga desa Long Bentuk itu benar menolak, kalau warga Desa Rantau Sentosa belum saya ketahui, tapi intinya mereka lebih senang menanam karet untuk jangka panjang," kata Camat Darius jiu. (*)
Pewarta: Adi Sagaria: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.