"Terutama dari transaksi ekspor-impor. Kami menargetkan porsi hingga 10 persen dari transaksi FIB secara nasional akhir tahun nanti," kata Firman Wibowo, Head of Division Senior Vice President BNI di Balikpapan, Selasa.
BNI kini baru menguasai sekitar 7-8 persen dari total volume ekspor impor secara nasional dengan nilai USD13,5 miliar. Sebagiannya adalah impor adalah USD7 miliar.
"Selama ini kebanyakan pelaku ekspor-impor kita menggunakan jasa bank asing," jelas Firman yang berbicara di depan sejumlah nasabah BNI penyedia beragam jasa (vendor) bagi Total E&P Indonesie, perusahaan minyak dan gas Indonesia dengan penanaman modal dari Prancis di Hotel Gran Senyiur, Balikpapan.
Sebagai langkah awal upaya peningkatan volume FIB ini, Firman menyebutkan BNI akan mengoptimalkan mitra kerja dari nasabah inti yang sudah belasan tahun bekerja sama dengan BNI.
Misalnya, kata dia, seperti sebagian vendor Total Indonesie tersebut. Total sendiri adalah nasabah BNI selama bertahun-tahun namun para mitranya belum menjadi nasabah kendati telah bekerja dengan nasabah inti dalam jangka waktu tertentu.
Para vendor Total Indonesie, karena bisnisnya, adalah pelaku ekspor-impor yang aktif. Sebagian kebutuhan perusahaan migas tersebut masih harus didatangkan dari luar Indonesia dengan alasan kualitas atau ketersediaan barang.
"Jadi mereka pasar yang potensial sekali," kata Agus Ariyanto, Chief Executive Officer BNI Kantor Wilayah Banjarmasin.
Mengingat perusahaan Migas (minyak dan gas alam) yang beroperasi di Kalimantan Timur bukan hanya Total, langkah-langkah serupa juga akan ditawarkan BNI kepada perusahaan migas lain seperti Chevron Indonesia Company, VICO, dan lain-lain.
"Selanjutnya baru kami akan garap pertambangan batubara, kelapa sawit, semua yang berpotensi ekspor-impor," papar Agus.
Sebagai bagian dari upaya ini juga BNI juga akan lebih memaksimalkan lagi cabang-cabangnya di luar negeri. BNI memiliki lima cabang di luar Indonesia, diantaranya di Tokyo, Jepang, dan di New York, Amerika Serikat.
Dia menegaskan Kalimantan memang menjadi daerah yang paling agresif ketimbang dengan daerah lain untuk mengembangkan potensi pendapatan dari trade financing.
"Terutama karena perdagangan energi dari perut bumi Kalimantan Timur," katanya. (*)
Pewarta: Novi AbdiEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.