"Penurunan ekspor pada bulan Januari 2012 disebabkan oleh turunnya ekspor migas yang mencapai 23,44 persen, yakni dari 1,57 miliar dolar pada Desember 2011 menjadi 1,20 miliar dolar pada bulan Januari 2012," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Johny Anwar di Samarinda, Senin.
Di sisi lain, lanjut dia, ekspor nonmigas juga mengalami penurunan sebesar 14,23 persen, yakni dari 1,84 miliar dolar Amerika Serikat pada bulan Desember 2011 menjadi 1,58 miliar dolar pada bulan Januari 2012.
Dilihat berdasarkan negara tujuan ekspor dari Kaltim, Jepang menempati urutan teratas dalam perkembangan ekspor pada bulan Januari 2012, yakni mencapai 956,19 juta dolar yang terdiri atas migas 706,87 juta USD dan nonmigas 249,31 juta dolar.
Disusul Republik Korea sebesar 470,98 juta dolar dengan perincian ekspor migas sebesar 257,93 juta dolar dan ekspor nonmigas senilai 213 juta dolar.
Kemudian Taiwan sebesar 323,90 juta dolar dengan perincian ekspor migas mencapai 166,09 juta dolar, dan ekspor nonmigas 157,82 juta dolar; China mencapai 323,85 juta dolar untuk nonmigas, sedangkan ekspor migas tidak ada.
Selanjutnya, Malaysia sebesar 135,15 juta dolar dengan perincian ekspor migas sebesar 23,36 juta dolar, dan ekspor nonmigas mencapai 111,79 juta dolar.
Jika dilihat berdasarkan urutan komoditas yang diekspor Kaltim pada bulan Januari 2012, kata dia, bahan bakar mineral yang terdiri atas batu bara, minyak, dan gas menempati posisi paling atas yang mencapai 2,57 I miliar dolar.
Disusul lemak dan minyak hewani atau nabati sebesar 75,22 juta dolar, bahan kimia anorganik senilai 45,88 juta dolar, kayu dan barang-barang dari kayu 35,43 juta dolar, pupuk 22,02 juta dolar, dan bahan kimia organik 14,06 juta dolar.
Kemudian ikan dan krustasea serta invertebrate air lainnya senilai 7,48 juta dolar, bijih logam, terak atau abu sebesar 2,41 juta dolar, tembakau dan pengganti tembakau dipabrikasi 1,94 juta dolar, mesin-mesin atau pesawat mekanik sebesar 1,32 juta dolar. (*)
Pewarta: M Ghofar: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.