Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Kaltim, H Ibrahim, di Samarinda, Selasa, membenarkan kejadian tersebut, setelah pihaknya menerima laporan dari Disnak Kubar beberapa hari sebelumnya.
Kematian 36 ekor sapi di Kubar itu, katanya, juga dinilai karena buruknya manajemen ternak di daerah tersebut.
Pada tahun anggaran 2011, lanjut dia, pihaknya memasukkan 100 ekor sapi untuk peningkatan populasi ternak di Kubar, namun 36 ekor di antaranya dilaporkan mati karena rumput untuk pakan terendam banjir cukup lama, sehingga banyak sapi yang kelaparan lalu mati.
Dia menilai kejadian itu merupakan sesuatu yang berada di luar batas kemampuan manusia atau sering disebut bencana. Untuk lebih memastikan kejadian tersebut, pihaknya kemudian mengirim tim ke Kubar, hasilnya memang karena faktor banjir dan sebab lain yang perlu dibenahi.
Tujuan bantuan sapi itu adalah untuk mempercepat peningkatan populasi, yakni diharapkan dalam waktu dua tahun ke depan, tingkat kehamilan sapi bisa mencapai 50 persen hingga 65 persen.
Dia juga mengatakan kejadian puluhan sapi yang mati tersebut tidak serta merta disebabkan banjir, namun juga karena buruknya manajemen peternakan di daerah itu.
Dia menerangkan, sebelum memasukan ternak ke suatu daerah, harus melalui berbagai tahapan, seperti seleksi lokasi dan petani, tahapan kursus bagi kelompok tani, mewajibkan kelompok tani menanam rumput dan membuat kandang sapi ternak.
Ini berarti sebelum kabupaten atau kota ditetapkan mendapat bantuan sapi ternak dari provinsi, maka daerah itu harus terlebih dulu melalui tahapan-tahapan tersebut.
Jika daerahnya dinyatakan layak, lanjutnya, baru kemudian permintaannya disetujui dan ternaknya boleh masuk. Berkaca dari kejadian itu, bukan tidak mungkin manajemen peternakan Disnak Kubar tidak sesuai dengan prosedur.
"Ke depan juga perlu adanya pembagian tugas antara provinsi dan daerah agar tidak sepenuhnya dibebankan ke Pemprov Kaltim, yakni Pemprov Kaltim memasukan sapi, sementara kabupaten dan kota harus meningkatkan kualitas sumber daya para peternak," kata Ibrahim. (*)
Pewarta: M Ghofar: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.