Samarinda (ANTARA) - Sekolah Rakyat Terintegrasi (SR) 24 Samarinda, Kalimantan Timur yang beroperasi perdana disediakan sebagai sebuah rumah baru yang menerapkan pola asuh dan adaptasi intensif bagi 100 siswa-siswi prasejahtera jenjang SMP dan SMA.
"Dengan sistem asrama penuh, sekolah ini memprioritaskan kenyamanan dan kesiapan mental siswa sebelum memulai pembelajaran akademik formal," kata Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 24 Samarinda Hasyim di Samarinda, Jumat (25/7).
Ia mengungkapkan bahwa model pendidikan yang diusung berbeda secara fundamental dari sekolah reguler. Fokus utama pada masa-masa awal adalah memastikan para siswa, yang berasal dari berbagai latar belakang keluarga dengan tantangan ekonomi, merasa aman dan nyaman di lingkungan barunya.
“Kami berbeda dengan sekolah umum. SR ini bersifat pendidikan berasrama. Yang ingin kami bentuk pertama kali adalah mereka tidak asing dulu dengan lingkungannya,” kata Hasyim di Samarinda.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pihak sekolah menerapkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan durasi yang jauh lebih panjang dari biasanya, yakni berkisar antara tiga minggu hingga tiga bulan. Menurut Hasyim, masa rintisan ini krusial untuk membangun fondasi psikologis siswa.
“Pertanyaannya, mengapa MPLS waktunya sangat panjang? Karena ini adalah masa persiapan. Bagaimanapun, nanti kita akan bicara juga soal bagaimana pembelajarannya. Jadi di tiga bulan ini memang kita fokus persiapan dulu,” terangnya.
Baca juga: SMA 16 Samarinda jadi lokasi sementara Sekolah Rakyat
Guna menunjang sistem pendidikan berasrama, seluruh kebutuhan siswa ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Fasilitas yang diberikan meliputi makan tiga kali sehari, makanan ringan dua kali seminggu, dan delapan setel seragam gratis.
Lebih dari itu, sekolah menerapkan sistem pendampingan yang terstruktur. Setiap 10 siswa berada di bawah pengawasan satu orang wali asuh, yang perannya lebih dari sekadar pengawas, melainkan sebagai mentor dan orang tua pengganti.
Lanjut Hasyim, seluruh wali asuh dikoordinasikan oleh seorang wali asrama untuk memastikan sistem berjalan efektif.
“Oleh karena itu, setelah mereka masuk, kami perlu melakukan tes untuk memetakan kemampuan dasar, kondisi kesehatan, hingga minat dan bakat mereka,” ujarnya.
Pendekatan ini memungkinkan sekolah untuk fokus sepenuhnya pada proses pembinaan dan pendidikan, sesuai dengan tujuan utama program, yakni memutus mata rantai kemiskinan secara efektif. Dengan mengetahui latar belakang dan potensi setiap anak, intervensi yang diberikan dapat lebih personal dan tepat sasaran.
Baca juga: Dana pembangunan tahap awal Sekolah Rakyat di Penajam Rp25 miliar
Pewarta: Ahmad RifandiEditor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026