Asisten Sekretariat Kabupaten Kutai Kartanegara Bidang Kesejahteraan dan Humas H Bahrul, ketika membuka workshop tersebut di di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Kukar, Selasa, mengatakan, orang tua dan guru memerlukan peningkatan pengetahuan dalam merawat dan mendidik anak berkebutuhan khusus, seperti penderita autis agar hak anak terpenuhi.
Ia mengatakan, merupakan generasi penerus bangsa, yang hak-haknya harus dipenuhi sebagai usaha untuk memperoleh tumbuh kembang buah hati yang sesuai harapan.
Menurut Bahrul, pertumbuhan penyandang autisme di dunia dan di Indonesia makin bertambah, namun upaya penanganannya masih minim. Hal itu karena kurangnya tenaga profesional dalam menangani anak autis.
"Maka harus ada penanganan serius dan sedini mungkin terhadap anak autis. Penanganannya pun dalam jangka panjang, perhatian dan kasih sayang orang tua sangat penting bagi anak autis," ujarnya.
Ia mengatakan pemerintah memandang upaya sosialisasi autis dan penanganannya sangat penting, agar masyarakat bisa memahami secara benar informasi dan cara penanganannya, sehingga tak ada lagi ejekan maupun pelecahan terhadap penyandang autis.
Bahrul mengatakan penyandang autis dapat tumbuh dewasa dan normal kembali, dan ada beberapa orang pintar di dunia yang dahulunya menyandang autis. Contohnya Temple Grandin, perempuan Amerika Serikat yang bergelar doktor pengetahuan binatang.
Awal masa-masa sekolahnya Grandin sangat sulit berkomunikasi. Tetapi berkat kesabaran dan semangat orangtuanya yang penuh kasih sayang, terus mendorongnya untuk belajar dan memberikan guru yang juga sabar, Grandin dapat tumbuh menjadi pemudi cerdas.
Berkat kegigihannya di usia 18 tahun Grandin menciptakan sendiri mesin terapi personal bagi dirinya sendiri yang dinamakan Squeeze Box.
Ia meneruskan pendidikan tinggi dan meraih sarjan psikologi, kemudian melanjutkan hingga gelar doktor.
"Grandin contoh nyata yang patut ditiru dan menjadi penyemangat bahwa anak autis bisa berkembang dan normal," kata Bahrul.
Selanjutnya Bahrul berharap guru di Kukar selain cerdas, juga memiliki simpati, dan kasih sayang terhadap murid, agar anak didik merasa nyaman menuntut ilmu.
"Guru juga dituntut mengikuti perkembangan dunia, namun yang terpenting harus menjaga karakter bangsa," imbaunya.
Workshop itu diikuti para guru, orang tua penyandang autis, organisasi wanita dan lembaga masyarakat di Kukar.
Bertinak selaku narasumber yakni Asisten Deputi penanaganan ABK bidang perlindungan anak Kementrian PP dan PA Sri Winarsih, Dosen PIB Universitas Negeri Jakarta Evita, Pendiri Pusat tumbuh kembang ABK Bali, Ida Ayu Selly Dharma Wijayamantra, Kepala bagain tumbuh kembang ABK Denpasar, Nyoman Yudiarni, serta psikolog anak, Nanik Koentijo, yang juga selaku orang tua dari anak berkebutuhan khusus. (*)
Pewarta: Hayru AbdiEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.