Samarinda  (ANTARA News Kaltim) - CEO PT Intan Angkasa Carl Albillot mengatakan, dugaan sementara penyebab jatuhnya pesawat survei milik perusahaan tersebut adalah cuaca buruk.

"Dugaan sementara akibat cuaca ditambah kondisi areal yang akan disurvei merupakan kawasan perbukitan sehingga pesawat yang melakukan terbang rendah harus mengikuti alur itu," ungkap Carl Albillot kepada wartawan di posko Penanggulangan Pencarian Korban Pesawat Jatuh Bandara Temindung Samarinda, Minggu sore.

Dugaan cuaca sebagai penyebab jatuhnya pesawat itu kata Carl Albillot didasari atas kondisi pesawat yang dianggap masih prima.

Pesawat jenis PA31 Piper Navajo Chief Tain milik PT Intan Perkasa yang dicarter oleh Elliot Geophysics untuk melakukan survei di salah satu kawasan tambang batu bara di area Bontang, masih layak terbang.

Walaupun dibuat pada 1978, katanya, namun pesawat bermesin dua buatan Amerika Serikat itu secara rutin menjalani pengecekkan dan perawatan.

"Pesawat itu digunakan 300 hingga 500 jam terbang per tahun dan setiap 2.000 terbang akan dilakukan pergantian mesin yang langsung dikirim dari pabrik. Jadi, badan pesawat saja yang tua tetapi mesin dan perawatannya masih prima sehingga sangat kecil kemungkinan jatuh akibat faktor mesin," kata Carl Albillot.

Terkait kesulitan menemukan pesawat tersebut akibat tidak berfungsinya ELT (Emergency Locator Transmitter), CEO PT Intan Angkasa itu mengakui, kemungkinan alat pemancar sinar darurat itu tidak berfungsi karena rusak.

"Selama ini, ELT pesawat itu tetap berfungsi. Karena alat itu terbuat dari plastik jadi kemungkinan hancur sehingga tidak bisa terdeteksi atau mungkin juga disebabkan tidak ada sinyal," ungkap Carl Albillot.

Pesawat survei dengan pilot Capt Marshal Basir berpenumpang tiga orang yakni Peter John Elliott selaku General Manager Elliot Geophysics International, seorang surveyor, Jandri Hendrizal, serta pendamping dari Kementerian Pertahanan RI, Kapten Suyoto, lepas landas dari Bandara Temindung Samarinda pada Jumat sekitar pukul 07.51 Wita dan hilang sekitar pukul 13. 51 Wita.

Pesawat itu direncanakan terbang selama empat jam dan diperkirakan akan kembali ke Bandara Temindung sekitar pukul 12.00 WITA dengan pengisian bahan bakar untuk enam jam.

Dari Bandara Temindung Samarinda pesawat itu terbang dengan ketinggian 3.000 kaki selanjutnya saat mendekati area survei di Kota Bontang, pesawat tersebut akan terbang dengan ketinggian 500 kaki.

Namun, hanya berselang beberapa menit sejak lepas landas dari Bandara Temindung, pesawat tersebut hilang kontak, hingga akhirnya diduga jatuh di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK).  (*)

Pewarta: Amirullah

Editor : Arief Mujayatno


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2012