Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menyebut batik khas IKN memiliki potensi dikembangkan yang dapat dimanfaatkan menjadi peluang usaha masyarakat lokal ibu kota baru Indonesia di sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.
"Batik khas IKN berpotensi dikembangkan dari sisi budaya maupun ekonomi kreatif," ujar Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN Myrna Asnawati Safitri, Sabtu, saat menjelaskan pemanfaatan tanaman hutan sebagai pewarna alami batik, di Sepaku, Penajam Paser Utara.
Meningkatnya jumlah pengunjung ke kawasan ibu kota baru Indonesia, kebutuhan suvenir khas daerah semakin terbuka, lanjut dia, batik khas IKN masih memiliki peluang besar dikembangkan dan dapat dimanfaatkan masyarakat lokal.
Otorita IKN terus mendorong peningkatan kapasitas masyarakat melalui berbagai pelatihan agar mampu menghasilkan batik dan wastra berkualitas yang memiliki daya saing lebih luas.
Sejumlah tanaman khas Kalimantan di hutan IKN dapat dimanfaatkan sebagai pewarna tekstil alami, jelas dia, batik mengekspresikan kebudayaan, termasuk memperkenalkan ragam hias khas wilayah IKN.
Proses pewarnaan, ketapang direbus menghasilkan warna alami, dan bagian bakau (mangrove) yang digunakan dapat berupa propagul, kulit, maupun daun yang telah digeprek agar sarinya keluar.
Baca juga: Goresan cinta Putri Maluang, angkat batik Berau ke pentas dunia
Kemudian, variasi warna.dihasilkan melalui proses fiksasi menggunakan kapur, tawas, dan tunjung yang menghasilkan warna merah bata, merah muda, biru tua, hingga kecokelatan.
Untuk memperkenalkan batik khas IKN tersebut diadakan lokakarya interaktif membatik dengan pewarna alami selama periode libur nasional, pukul 10.00-16.00 Wita di kawasan Sentra Masa IKN gratis untuk umum tanpa pendaftaran.
"Workshop membatik diadakan agar masyarakat dapat mengenal bagaimana tanaman di hutan IKN dimanfaatkan sebagai pewarna tekstil alami," kata Myrna Asnawati Safitri yang juga Ketua Panitia Pelayanan Kunjungan Masyarakat periode libur Kenaikan Isa Almasih 2026 itu.
Kegiatan tersebut mengajak pengunjung mengenal teknik membatik sederhana dengan metode shibori atau tie-dye menggunakan pewarna alami dari tanaman khas Kalimantan, alat dan bahan telah disediakan panitia, dan hasil karya peserta dapat dibawa pulang.
Pengunjung kawasan IKN antusias mengikuti workshop membatik, Novita Sandra, salah satu pengunjung yang mengikuti kegiatan itu mengaku baru mengetahui pewarna bisa berasal dari akar-akar tumbuhan dan menilai kegiatan itu sangat edukatif bisa menambah pengalaman.
Baca juga: Dekranasda Kutim perkenalkan batik Wakaroros dalam ajang IFW 2025
Editor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2026