Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat Kalimantan Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), defisit air minum, serta gangguan kesehatan pada musim kemarau.

“Meski kemarau di Kalimantan Timur masih tergolong normal, risiko-risiko yang muncul tetap harus diwaspadai, terutama karhutla, kekurangan air bersih, dan paparan debu serta radiasi matahari,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Kukuh Ribudiyanto, di Balikpapan, Rabu (30/7).

Kalimantan Timur, menurutnya, telah memasuki fase kemarau sejak awal Juli dan diperkirakan berlangsung hingga September dengan puncak kekeringan terjadi pada bulan Agustus.

"Sejak pertengahan Juli, penurunan curah hujan tercatat mulai signifikan," ujarnya.

Musim kemarau, lanjutnya, berpotensi mempercepat pengeringan vegetasi dan menimbulkan akumulasi debu di udara, yang bisa memicu gangguan saluran pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

“Periode itu sering disalahpahami karena masih ada hujan. Meski curah hujan belum nol, penurunan tetap terjadi dan berdampak nyata,” ujarnya.

Kukuh menyebut fenomena itu sebagai kemarau basah, yakni kondisi kemarau yang masih disertai potensi hujan ringan. Kemarau basah merupakan istilah yang diadopsi secara resmi oleh BMKG untuk menjelaskan musim kemarau di wilayah beriklim monsun seperti Kalimantan Timur.

Baca juga: BMKG Balikpapan imbau warga waspadai dampak pasang laut 2,9 meter

Meski masih terjadi hujan pada beberapa hari, data BMKG menunjukkan rata-rata curah hujan bulanan pada Agustus–September pada kisaran 100 milimeter.

Angka tersebut, kata dia, sudah masuk kategori musim kemarau menurut standard BMKG, menyusul batas atas curah hujan kemarau pada 150 milimeter.

Selain perubahan pola curah hujan, keberadaan siklon tropis di sekitar Filipina dan utara Papua juga mempengaruhi distribusi uap air di wilayah Kalimantan Timur.

“Gangguan itu ikut menurunkan curah hujan secara bertahap, terutama di kawasan pesisir dan dataran rendah,” ujarnya.

Kukuh mengingatkan karakteristik geografis Kalimantan Timur yang kaya hutan dan lahan terbuka membuat wilayah itu sangat rentan terhadap karhutla.

BMKG juga meminta masyarakat agar tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar.

“Kami minta semua pihak, terutama masyarakat di daerah rawan, untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran sekecil apa pun. Sekali api muncul, sangat sulit dikendalikan pada musim kering seperti ini,” katanya.

Baca juga: BMKG: Gempa di Balikpapan masuk kategori dangkal akibat sesar aktif

BMKG juga mengimbau pemerintah daerah agar terus memantau ketersediaan air bersih, memperkuat koordinasi dengan pemangku kepentingan penanggulangan bencana, serta meningkatkan kampanye adaptasi cuaca ekstrem kepada masyarakat.

“Kondisi musim kemarau bukan untuk diremehkan, tapi justru harus direspons serius dengan langkah-langkah mitigasi konkret, baik oleh masyarakat maupun pemerintah,” kata Kukuh Ribudiyanto.

BMKG akan terus melakukan pemantauan dan memberikan pembaruan prakiraan cuaca kepada pemerintah daerah dan instansi terkait sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.

Pewarta: Muhammad Solih Januar

Editor : Imam Santoso


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2025