Kami jurnalis yang pernah mengenal Hajjah Emilia terkejut. Dalam masa antara dua tahun terakhir, wanita kelahiran Long Iram tahun 1972 itu telah berpulang.
 

“Minta doanya untuk almarhumah ya, … “ jawab Erwin, anak sulung mendiang ketika dihubungi Selasa 8/11 lalu.

Selama 2 tahun wabah COVID-19 menyerang, sejumlah kawan, kerabat, tokoh, meninggal dunia terkena  COVID-19. Walau banyak juga yang meninggal karena sebab-sebab lain.  

Saya lalu ingat almarhumah gemar makan bawang hitam tunggal yang dipercaya punya banyak khasiat. Ketika kami menyempatkan singgah ke rumah di Villa Tamara di selatan Samarinda sepulang dari Hulu Mahakam, ia menyajikan bawang itu. Bahkan, ketika pamit mau pulang, kami bertiga dioleh-olehi sang bawang.

“Coba dulu makan ini bawang. Enak, dan banyak khasiatnya,” kata Bu Haji, demikian kami memanggilnya.

Bu Haji orang terkenal di Kutai Barat hingga Mahakam Ulu. Dari Pelabuhan Tering hingga Ujoh Bilang dan Long Apari. Dari warung terapung di Long Pahangai sampai Warung Dempo, warung-rumah semi permanen dengan tiang-tiang kayu yang kokoh di Tiong Bu’u, semua kenal Bu Haji.

Hampir semua pejabat di kedua kabupaten ujung kiri Kaltim itu juga kenal dengan wajahnya yang selalu mengembangkan senyum.

Apalagi ia selalu berpergian bersama suaminya Haji Syahdan. Maka pasangan itu gampang diingat. Haji Syahdan kurus tinggi, Bu Haji gemuk berisi.

Bersama suaminya itu, Hajjah Emilia adalah pemilik PT Bukit Indah Berkah (BIB)yang jadi penyalur bahan bakar minyak (BBM) di Mahakam Ulu hingga kampung terjauh Tiong Ohang di Long Apari, 850 km timur laut Kota Minyak Balikpapan.

Pada tahun 2017, PT BIB memasok solar dan premium ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kompak di Tiong Ohang.

Dalam program BBM Satu Harga, jarak 850 km untuk membawa BBM sampai Tiong Ohang seperti dinihilkan.

Ongkos angkut ditanggung Pertamina-Pemerintah sebagai bentuk pengalihan subsidi. Besarannya ketika itu Rp2 miliar per tahun.

Maka pada tahun tersebut, harga premium di SPBU Kompak di Tiong Ohang, Long Apari, Rp6450 per liter. Solar Rp5150 per liter. Tidak ada beda sesen pun dengan Balikpapan dimana kedua BBM diproduksi.

“Kami masih menyalurkan BBM untuk Long Apari, dengan harga juga sama seperti di SPBU mana pun di Indonesia,” kata Erwin.

Cuma tidak ada lagi premium. Gantinya pertalite yang Rp10.000 per liter. Solar yang datang kini biosolar, banderolnya Rp6.800 per liter.

Konsumen pertalite di hulu Mahakam, selain motor, juga motor tempel perahu ketinting. Biosolar konsumennya, antara lain mesin diesel pembangkit listrik untuk melistriki base transceiver station (BTS) layanan telepon seluler yang ketika itu baru 2G alias baru melayani untuk panggilan suara dan pesan pendek.

Urusan layanan seluler ini pernah membuat Tiong Ohang terkenal dan membuat kalang kabut para petinggi Republik.

Entah ide siapa, Jalur Gemilang, bendera merah putih dengan bulan sabit dan matahari berlatar biru milik tetangga di sebelah hutan, Kerajaan Federasi Malaysia, sudah berkibar di tiang bendera tertinggi di Tiong Ohang menggantikan Sang Merah Putih.

Tak urung Panglima Kodam VI Mulawarman terbang langsung dengan helikopter untuk tahu apa yang terjadi. Informasi intelijien bilang, orang dari penyedia layanan seluler juga harus diajak.

Begitulah antara lain cara Tiong Ohang mendapatkan BTS itu. Namun karena harga solar berkisar antara Rp15.000 hingga  Rp20.000 per liter di kampung itu, bahkan seringkali lebih, maka anggaran bahan bakar hanya cukup untuk listrik setengah hari. Jadi setengah hari pula umur sinyal per hari.

“Masih lumayanlah daripada tidak ada sama sekali. Masa kita harus pakai Maxis,” kata Agnes Bulan, yang di tahun 2017 baru saja berulang tahun ke-17, sweet seventeen.

Maxis adalah layanan operator seluler dari Malaysia. Warna kebesarannya sama dengan Telkomsel, merah, merah, merah.

“Cara pengangkutannya juga masih lebih kurang sama,” lanjut Erwin. Sebab sampai hari ini belum ada jalan raya yang cukup nyaman untuk membawa kargo BBM, maka sungai tetap jalur transportasi utama.  

Cerita bagaimana BBM diantarkan dari Balikpapan sampai ke Hulu Mahakam ini sudah terkenal.

Pertamina membuat video yang membuat perasaan penontonnya campur aduk. Ada bangga ada terharunya. Mungkin ada kesalnya juga. Begitu ternyata perjuangan agar orang di hulu bisa dapat BBM.

Karena itu orang di hulu juga tak pernah protes harga BBM sampai Rp20.000, atau Rp50.000 per liter. Cara BBM itu akhirnya bisa sampai ke tangki ketinting itu, mak, …

Seperti dituturkan Bu Haji, seperti digambarkan di video Pertamina, seperti dikutip dari berita Antara di tahun 2017, pertama BBM diangkut dengan tanker jenis LCT (Landing Craft Tank) yang punya haluan dan lunas datar sehingga bisa melenggang di perairan yang surut.

Sekali angkut dari Balikpapan, tidak kurang dari 200.000 liter BBM dibawa. Dalam 2 hari perjalanan nonstop penuh kehati-hatian, sampailah LCT di Long Bagun, lebih kurang 500 km barat laut Kota Minyak.  

“Kadang sungai surut, kapal tidak bisa maju kecepatan penuh sehingga perjalanan jadi 3 hari,” kata Bu Haji.

Di Long Bagun, sekitar empat jam perjalanan longboat dari Pelabuhan Tering di Melak, di masa hidupnya, Bu Haji mengawasi pembongkaran 200 ribu liter BBM dari kapal tanker ke fasilitas perusahaan di hulu kampung.

Cerita Haji Syahdan, sering kali sambil menggendong Erwin dan menyuapinya makan, atau mengurusi adik perempuannya.  Dari kapal, BBM harus dipindahkan ke dalam 1.000 drum berkapasitas masing-masing 200 liter.

"Kapal LCT hanya bisa sampai Long Bagun, setelah itu sungai terlalu surut untuk dilewati. Kita ganti pengangkutan dengan longboat," cerita Bu Haji dalam perjalanan pulang dari Long Apari.  


Sekarang longboat untuk mengangkut BBM dipasangi 3 buah mesin yang masing-masing berkekuaan 200 tenaga kuda. Longboat itu kuat membawa 30 drum atau kira-kira 6 ton bensin dan solar. Apabila memulai perjalanan Senin pagi dari Long Bagun, maka baru pada Kamis sore longboat itu akan sampai Long Apari.

Perjalanan menjadi selama itu sebab melewati dan melawan arus deretan jeram besar di antara Long Pahangai-Long Apari.

Saat akan melewati jeram-jeram itu, dua pertiga muatan longboat diturunkan dulu di air tenang sebelum Riam Udang, kemudian longboat maju hingga melewati Riam Panjang.

Muatan perlu diturunkan demi kelincahan perahu dan mendapatkan daya dorong maksimal saat melawan arus kuat jeram. Untuk menurunkan setiap drum berbobot lebih kurang 200 kg itu, diperlukan tenaga setidaknya 4 lelaki sehat kuat.

Begitu sampai Riam Panjang, muatan yang sepertiga atau 10 drum tadi diturunkan lagi dan longboat kosong kembali untuk menjemput 10 drum lagi. Begitu diulang hingga seluruh drum bisa dibawa melewati riam.

"Kadang-kadang dalam perjalanan itu kami kehilangan beberapa drum. Entah jatuh terbawa arus, entah hilang dicuri saat ditinggal. Paling banyak itu pernah hilang sampai 14 drum dalam sekali perjalanan," ungkap Bu Haji.

Jumlah 14 drum itu sama dengan 2.800 liter atau sudah lebih dari separo muatan truk tangki 5.000 liter. Masa itu nilainya lebih kurang Rp18 juta.

Tapi susah payah itu terbayar. Dibandingkan harga BBM Rp15.000-20.000 per liter, atau kadang-kadang Rp50.000 per liter di saat Sungai Mahakam surut dan LCT tak bisa masuk, harga Rp5.150 itu murah sekali.

Bahkan dibandingan dengan harga pertalite yang Rp10.000 per liter sekarang pun masih murah.

Setelah peresmian SPBU Kompak di Tiong Ohang 11 Februari 2017, untuk pertama kalinya ada sinyal seluler seharian. Betul-betul seharian, atau tepatnya seharian semalaman, 24 jam.

“Sekarang HP sudah bisa dipakai menelpon, tidak lagi sekedar buat simpan lagu atau foto-foto saja,” kata Agnes Bulan, tersenyum ceria di samping neneknya, Maria Bulan yang menjadi satu-satunya Orang Kenyah di Tiong Bu’u-Tiong Ohang di tahun 2017 yang masih memelihara teling panjang dan bertato.   

Listrik di penginapan yang sempat dipadamkan pukul 6 pagi, eh hidup kembali. Tidak lagi menunggu pukul 6 sore sepulang orang-orang mandi di sungai.

Yang kebunnya agak jauh dari kampung, tidak lagi malas-malasan berangkat kerja karena bahan bakar untuk ketintingnya mudah dan murah.

“Saya jadi kepingin sekolahkan Dempo ke Jawa, kuliah di UGM,” kata Bapaknya si Dempo, pemilik warung makan di Tiong Bu’u.

Dempo adalah anak kecil perempuan 5 tahun pada 2017. Kini ia duduk di kelas 5 SDN Tiong Bu’u, sekolahan di puncak bukit di ujung selatan kampung.

Bapaknya Dempo, yang saya tak ketemu namanya di catatan saya, adalah perantau dari Palembang. Jadi tahulah Anda dari mana asal nama ‘Dempo’ itu bukan. Itu nama satu puncak Pegunungan Bukit Barisan di selatan, di batas Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan. Tinggi puncaknya 3.142 meter dari muka laut.   

Lelaki kurus berambut keriting dengan kulit cokelat legam itu datang sebagai buruh di perusahaan penebangan kayu saat usianya masih 20an tahun, di akhir masa jaya HPH. Ia juga punya keterampilan memasak, yang langsung menjadi tumpuannya saat perusahaan tutup karena tak ada lagi kayu di konsesinya.

“Kebetulan, saya ketemu jodoh di sini,” katanya terkekeh.

Kata Erwin, harga BBM yang sama dengan di kota itu, membuat nilai duit Rp100.000 di Long Apari, juga di Long Pahangai, bertambah. Ukurannya, dulu, sebelum 2017 hanya bisa dapat 5 liter bensin. “Itu pun kalau barangnya ada.”

Sekarang, atau saat itu dengan harga Rp5.150, bisa dapat 19 liter premium oktan 88 dan masih dapat kembalian Rp400. Atau saat ini masih bisa dapat 10 liter pertalite, bahan bakar dengan oktan 90 yang bikin mesin lebih awet. Dan barangnya selalu ada. Tiap 2 minggu datang pasokan dari Long Bagun.

“Artinya daya beli masyarakat di sini menguat. Mungkin jumlah uang di saku mereka tidak bertambah, tapi nilainya jelas bertambah,” kata Erwin.  

Seperti Bapaknya si Dempo. orang yang merasa punya kelebihan uang, lalu jadi punya harapan besar dan cita-cita lebih tinggi.

Dengan harga solar yang lebih masuk akal, PLN berani memasang pembangkit listrik tenaga diesel. Sementara memang masih 12 jam di malam hari, tapi genset warga bisa istirahat. Warga pun menghemat.

Karena sekarang ada listrik yang andal, kulkas dan mesin cuci menjadi barang yang paling diminati.

“Saya melihat orang-orang lebih bersemangat, lebih positif, dan lebih yakin pada masa depan,” kata Erwin.  

Bagi Erwin sendiri, secara pribadi BBM Satu Harga di Long Apari adalah ‘warisan’ ibunya. Bersama saudara perempuannya, ia menjalani irama hidup seperti ibunya dulu. Ia mengecek ketersediaan stok di Long Bagun dan Long Apari, mengirim order minta kiriman pasokan, mengawasi pembongkaran dari LCT, memastikan drum-drum stabil di longboat dan sampai dengan selamat di tujuan.  

“Semoga ini menjadi amal jariyah almarhumah, juga sumbangan kami pada bangsa dan negara ini,” katanya.

 

Pewarta: Novi Abdi

Editor : Abdul Hakim Muhiddin


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2022