Balikpapan (ANTARA Kaltim) - Chen Kooi Chiew, pengusaha asal Malaysia, berniat mengembangkan industri pariwisata di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Pengusaha bergelar Tan Sri Dato itu menemui Wakil Wali Kota Heru Bambang, Jumat (11/10).

Kepada Wakil Wali Kota, Chen menyebutkan memerlukan lahan yang luas untuk membangun apa yang disebutnya sebuah Kota Baru yang mandiri.

Wakil Wali Kota Heru Bambang menggambarkan kota impian Chen ini akan mirip kawasan Pakuwon di Surabaya atau Bumi Serpong Damai (BSD) di Jakarta.

"Akan dilengkapi tempat wisata sekelas Trans Studio," cetus Wakil Wali Kota.

Menurut Heru Bambang, Chen sudah melakukan penjajakan dan tertarik pada beberapa lokasi di Kota Minyak.

Namun demikian, berapa nilai investasi yang akan digelontorkan Chen, Wakil Wali Kota mengaku belum tahu.

Ia sendiri menilai pariwisata di Kota Minyak belum berkembang karena ketiadaan dana dari Pemerintah.

Bila dinilai dari Pendapatan Asli Daerah, pariwisata di Kota Balikpapan ditargetkan menyumbang sebesar Rp1,7 miliar, naik sebesar Rp 500 juta dari tahun 2012 yang sebesar Rp 1,2 miliar.

Namun target tahun lalu gagal terealisasi, karena PAD yang berhasil dihimpun hanya sebesar Rp500 juta.

Menurut jurnalis yang juga gemar berwisata, Adi Prasetya, ada kesalahan dalam melihat potensi wisata di Balikpapan.

Wisata di Balikpapan, sebutnya, adalah wisata sejarah, wisata petualangan, dan wisata pendidikan.

"Jadi bukan wisata budaya seperti di Bali, atau mau menjual keindahan alam seperti Pulau Maratua di Kepulauan Derawan," terang Adi.

Akibat cara pandang yang keliru itu, banyak obyek wisata Balikpapan terbengkalai. Gua-gua pertahanan Jepang pada Perang Dunia II, atau sisa-sisa kubu di Pantai Manggar, dibiarkan hancur tak terawat.

"Atau pernah ada yang memikirkan gak, kilang minyak Balikpapan itu sesungguhnya tempat wisata yang luar biasa sebagai wisata pendidikan, sebagai wisata sejarah. Sumur Mathilda itu, sumur minyak pertama yang menjadi alasan dibangunnya Balikpapan, memang sudah sering disebut bila bicara Balikpapan, tapi pemandu wisata di sini tidak menguasai sejarahnya sehingga orang tidak tergerak untuk mengunjunginya," demikian Adi. (*)

Pewarta: Novi Abdi

Editor : Arief Mujayatno


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2013