Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengharapkan Eiger Adventure Land (EAL) yang dibangun PT. Eigerindo Multi Produk Industri, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar) dapat menampung karya-karya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) masyarakat setempat.


“Di masa pemulihan pascapandemi (COVID-19) ini, kita perlu membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat melalui investasi di sektor pariwisata yang akan menjadi sektor unggulan dalam pemulihan dan peningkatan ekonomi di masa yang akan datang,” kata Sandiaga, di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jabar sebagaimana tertulis dalam keterangan pers, diterima di Jakarta, Minggu.

Pada kesempatan yang sama, Menparekraf mengapresiasi EAL sebagai ekowisata berstandar internasional yang dibangun di lahan seluas 326 hektare di Desa Sukagalih.

Pembangunan ekowisata ini mengusung tema “leisure business” dengan tetap memprioritaskan kelestarian dan keseimbangan alam menjadi outdoor adventure playground (taman bermain di luar ruangan) buat para pecinta wisata petualangan.

Nantinya, kata dia lagi, akan dibangun jembatan gantung (suspension bridge) terpanjang di dunia sepanjang 535 meter dan cable car (kereta gantung) dengan rute sepanjang 930 meter.

“Semoga dengan adanya ikon wisata baru ini nantinya dapat menjadi destinasi kebanggaan masyarakat Bogor, Jawa Barat serta Indonesia, juga menjadi daya tarik unggulan untuk menarik wisatawan baik dalam maupun luar negeri,” ujar Sandiaga.

Jembatan gantung tersebut digadang-gadang akan mengalahkan jembatan gantung kelas dunia seperti Arouca di Portugal sepanjang 516 meter, dan Carles Kuonen di Pegunungan Alpen Swiss sepanjang 490 meter.

Chairman PT Eigerindo Ronny Lukito menyatakan bahwal EAL direncanakan dapat mulai beroperasi dan dibuka untuk umum pada tahun 2023 mendatang.

“Saya ingin buat sebuah ekowisata taman nasional yang bernuansa lingkungan, untuk izin tidak perlu khawatir. Kementerian Kehutanan sangat amat ketat untuk perizinan, kami harus betul-betul memperhatikan ekosistem di kawasan ini,” ujarnya pula.

Berdasarkan total lahan berkisar 300 hektare, Eiger disebut hanya menggunakan 1,56 persen untuk dikelola dengan bangunan semi permanen. Hal ini dilakukan karena peraturan terkait kehutanan menjelaskan bahwa lahan yang dapat dikelola hanya 10 persen.

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas

Editor : Abdul Hakim Muhiddin


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2021