Balikpapan (ANTARA Kaltim) - Dinas Pertanian, Perikanan dan Kelautan Pemerintah (DPKP) Kota Balikpapan menemukan sejumlah hewan kurban terkena penyakit cacing hati.
Kepala DPKP Kota Balikpapan Chaidar Chairulsyah, Senin, mengatakan pihaknya menemukan enam ekor hewan kurban yang terkena penyakit cacing hati.
Dia mengakui penyakit ini susah untuk diidentifikasi karena tidak terlihat pada fisik luar hewan ternak sehingga saat diperiksa kesehatan sebelum dikurbankan, penyakit itu tidak terdeteksi.
Cacing yang ada di hati hewan tersebut baru bisa dilihat saat hewan sudah dipotong.
"Kami sudah meminta untuk dipisahkan dan tidak dibagikan organ yang terkena penyakit tersebut," kata Chaidar di Gedung DPRD Balikpapan.
Namun demikian, Chaidar menambahkan temuan penyakit tersebut tidak mengganggu ritual pemotongan hewan kurban yang sudah dimulai sejak Jumat (26/10) pekan lalu.
Menurut Chaidar, cukup dengan menyingkirkan daging yang terkontaminasi bisa menghindarkan penyebaran penyakit kepada manusia.
"Apalagi nanti kan daging itu dimasak, direbus, atau dibakar bikin sate. Insya Allah aman," katanya.
Jumlah hewan kurban yang dipotong hingga Minggu (28/10) tercatat mencapai 2.521 ekor sapi dan 956 ekor kambing. Tahun lalu, masyarakat Balikpapan berkurban sebanyak 2.315 ekor sapi dan kambing 1.147 ekor.
Hewan baik sapi maupun kambing itu diadakan oleh peternak Balikpapan sendiri, yang mampu mengadakan 1.500 ekor. Kekurangan sisanya didatangkan dari daerah Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.
Di sisi lain, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan H Muhammad Idris menyebutkan, bila berkelebihan, bisa saja daging kurban dari Balikpapan dibagikan ke daerah lain yang memerlukan.
"Bisa saja dialihkan ke daerah lain yang berdekatan sehingga ada pemerataan pembagian jatah daging kurban," ujarnya.
Haji Idris menyebutkan, penerima kurban di Balikpapan pada 2012 mencapai 16.000 orang, menurun dari tahun lalu yang berjumlah 18.000 orang. (*)
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2012
Kepala DPKP Kota Balikpapan Chaidar Chairulsyah, Senin, mengatakan pihaknya menemukan enam ekor hewan kurban yang terkena penyakit cacing hati.
Dia mengakui penyakit ini susah untuk diidentifikasi karena tidak terlihat pada fisik luar hewan ternak sehingga saat diperiksa kesehatan sebelum dikurbankan, penyakit itu tidak terdeteksi.
Cacing yang ada di hati hewan tersebut baru bisa dilihat saat hewan sudah dipotong.
"Kami sudah meminta untuk dipisahkan dan tidak dibagikan organ yang terkena penyakit tersebut," kata Chaidar di Gedung DPRD Balikpapan.
Namun demikian, Chaidar menambahkan temuan penyakit tersebut tidak mengganggu ritual pemotongan hewan kurban yang sudah dimulai sejak Jumat (26/10) pekan lalu.
Menurut Chaidar, cukup dengan menyingkirkan daging yang terkontaminasi bisa menghindarkan penyebaran penyakit kepada manusia.
"Apalagi nanti kan daging itu dimasak, direbus, atau dibakar bikin sate. Insya Allah aman," katanya.
Jumlah hewan kurban yang dipotong hingga Minggu (28/10) tercatat mencapai 2.521 ekor sapi dan 956 ekor kambing. Tahun lalu, masyarakat Balikpapan berkurban sebanyak 2.315 ekor sapi dan kambing 1.147 ekor.
Hewan baik sapi maupun kambing itu diadakan oleh peternak Balikpapan sendiri, yang mampu mengadakan 1.500 ekor. Kekurangan sisanya didatangkan dari daerah Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.
Di sisi lain, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan H Muhammad Idris menyebutkan, bila berkelebihan, bisa saja daging kurban dari Balikpapan dibagikan ke daerah lain yang memerlukan.
"Bisa saja dialihkan ke daerah lain yang berdekatan sehingga ada pemerataan pembagian jatah daging kurban," ujarnya.
Haji Idris menyebutkan, penerima kurban di Balikpapan pada 2012 mencapai 16.000 orang, menurun dari tahun lalu yang berjumlah 18.000 orang. (*)
Editor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2012