Balikpapan  (ANTARA News Kaltim) - Dua anggota DPR RI asal daerah pemilihan Kalimantan Timur mendesak pemerintah agar segera melakukan  audit nasional atas sarana dan prasarana transportasi publik untuk memastikan dan menetapkan standar keselamatannya.

"Jangan sampai kejadian Jembatan Kartanegara terulang lagi di jembatan-jembatan lain, apa pun konstruksinya, atau fasilitas transportasi publik apa pun di seluruh Indonesia," kata Hetifah Sjaifudian dari Fraksi Partai Golkar, Rabu (30/11).

Menurut Hetifah, runtuhnya jembatan yang baru digunakan lebih kurang 10 tahun itu merupakan tanda kegagalan penerapan standar keselamatan tersebut.

"Kalau perencanaan, pengelolaan, dan perawatannya benar, tentu tidak akan ada masalah," sambung wanita yang kini kerap mengunjungi wilayah di perbatasan tersebut.

Namun, ujarnya, nyatanya jembatan tersebut runtuh di usia ke-10, padahal masih jauh dari umur maksimalnya yang dirancang kuat berdiri hingga 100 tahun.

"Harus ada yang bertanggungjawab. Ini bukan musibah, harus dibedakan antara bencana alam dengan ulah manusia," ujar alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Senada dengan Hetifah, secara terpisah anggota Fraksi Gerinda DPR RI Desmond J Mahesa juga mengambil peristiwa runtuhnya Jembatan Kartanegara di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sebagai titik peringatan.

"Saya mendorong Kejaksaan Agung untuk menjalankan investigasi anggaran dalam proses pembangunan jembatan itu," tegas politikus Partai Gerakan Rakyat Indonesia Raya (Gerindra) yang sejatinya berasal dari Kalimantan Selatan itu.

Jembatan Kartanegara yang runtuh pada 26 November 2011 mulai dibangun pertengahan tahun 1990-an. Jembatan sepanjang 710 meter itu kemudian selesai di tahun 2001 dan langsung digunakan sebagai penghubung, pendekat antara dua kota, Tenggarong-Samarinda.

Jembatan itu mengambil bentuk Golden Gate di San Francisco, Amerika Serikat, yang merupakan salah satu jembatan gantung terpanjang di dunia.

Jembatan serupa dengan bentangan lebih panjang juga ada di Kalimantan Selatan. Jembatan Barito melintang di atas Sungai Barito sepanjang 1.200 meter, dan menghubungkan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dengan Palangkaraya dan daerah lain di Kalimantan Tengah yang jadi daerah perantauan orang Banjar dari Kalimantan Selatan.

Selain Jembatan Kartanegara, di bagian hilir Sungai Mahakam juga membentang Jembatan Mahakam dan Jembatan Mahulu atau Jembatan Mahakam Ulu di Samarinda.

Putusnya jembatan Kartanegara ini mengakibatkan warga Tenggarong dan kecamatan-kecamatan di sisi selatan Sungai Mahakam harus memutar melewati Loa Kulu dan Loa Janan sebelum sampai ke Samarinda.

Rute yang sama ditempuh oleh distributor barang-barang kebutuhan sehari-hari. Jarak yang semula hanya 40 km, kini menjadi tidak kurang dari 70 km. (*)

Pewarta: Novi Abdi

Editor : Arief Mujayatno


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2011