Tenggarong (ANTARA Kaltim) - Grup kesenian Mamanda Panji Berseri Tenggarong akan memeriahkan kegiatan Koetai Tempoe Doeloe yang dilaksanakan dalam rangka Festival Kota Raja (FKR) ke-II pada Minggu (20/10) malam.

Grup Mamanda yang berasal dari Jalan Lai waduk Panji tersebut, menampilkan sandiwara yang berjudul Gaibnya Kerajaan Sadewi yang melibatkan sekitar 30 personelnya termasuk pemain musik.

Sesekali para penonton yang hadir dibuat tertawa oleh penampilan anak asuh Tabri Joni dan kawan-kawan, karena dalam lakonnya kerab dibumbui dialog humor maupun gaya-gaya lucu dari pemainnya.

Mamanda semakin semarak karena juga diiringi tetabuhan gendang dan irama khas musik tingkilan dari gambus tradisional Kutai.

Mamanda adalah seni drama tradisional Kutai, yang pada zaman Kesultanan dahulu ditonton langsung oleh Sultan bersama kerabatnya.

Sehingga, Mamanda merupakan pertunjukan yang sangat populer pada masa itu.

Acara Koetai Tempoe Doeloe itu juga dimeriahkan oleh penampilan tari Jepen khas Kutai yang diiringi musik tingkilan dari beberap grup Seni Jepen di Tenggarong, diantaranya sanggar seni Karya Darma dari SDN 05 dan SDN 09 Tenggarong.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kutai Kartanegara, Sri Wahyuni mengatakan, kegiatan Koetai Tempoe Doeloe yang terlaksana atas kerjasama  Total E&P Indonesie itu merupakan rangkaian FKR ke-II guna memeriahkan hari jadi Kota Tenggarong ke-231.

Menurtnya, kegiatan tersebut digelar dengan harapan masyarakat Kutai Kartanegara semakin mengenal dan melestarikan Mamanda yang sudah mulai jarang keberadaannya.

"Serta tentunya, untuk menghibur pengunjung Tenggarong, untuk menyaksikan salah satu budaya asli Kutai," ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakannya, Disbudpar bersama Total akan merekonstruksi ulang sejarah bagaimana Mamanda itu dimainkan zaman dulu, baik mulai lakon maupun propertinya, hingga bagaimana manajemen pengelolaan grup Mamanda tersebut.

"Hasil riset itu akan kami buat dalam dokumen tertulis lalu diberikan ke sekolah-sekolah agar bisa diaplikasikan sehingga dihafapkan melahirkan grup Mamanda baru," harapnya.

Sementara, Edi Mulyadi dari Total E&P Indonesie yang hadir pada malam itu mengatakan merasa terharu saat melihat kesenian Mamanda yang masih dipelihara oleh sanggar seni Panji Berseri.

"Ditengah zaman serba modern ini kesenian Mamanda asli Kutai masih bertahan, mereka ini adalah harus kita apresiasi dan didukung," ujarnya.

Total kata dia akan terus berupaya membantu melestarikan seni budaya tradisonal bersama Dinaskebudayaan dan Pariwisata.

"Karena visi misi kami bertujuan melestarikan seni budaya nusantara," katanya. (*)

Pewarta: Hayru Abdi

Editor : Amirullah


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2013