Dua WNA ajukan eksepsi kasus perampokan money changer

Dua WNA ajukan eksepsi kasus perampokan money changer

Dua terdakwa, Georghi Zhukov (40) asal Rusia dan Robert Haupt (42) asal Ukraina, saat keluar dari persidangan yang beragendakan pengajuan esepsi, di Pengadilan Negeri Denpasar. (Antara/Ayu Khania Pranisitha/2019)

Denpasar (ANTARA) - Dua terdakwa, Georghi Zhukov (40), asal Rusia dan Robert Haupt (42), asal Ukraina, mengajukan eksepsi atas kasus perampokan tempat penukaran uang asing (money changer) yang terjadi di wilayah Benoa, Kuta Selatan.

"Bahwa dakwaan sepatutnya batal demi hukum karena dakwaan yang diajukanjaksa penuntut umum (JPU) tidak memenuhi Pasal 143 ayat (2) huruf b, sepantasnya dianggap kabur, membingungkan atau menyesatkan yang berakibat sulit bagi terdakwa untuk melakukan pembelaan diri," kata Pengacara terdakwa, I Nengah Sidia, di Pengadilan Negeri Denpasar, Rabu.

Dalam kasus ini, terdakwa yang didampingi tiga pengacaranya, yaitu I Komang Ari Sumartawan, I Nengah Sidia, dan I Kadek Putra Sutarnayasa, mengajukan eksepsi terhadap dakwaan yang dilayangkan JPU. Melalui pengacaranya, kedua terdakwa keberatan telah diadili melakukan perampokan money changer.

Baca juga: WNA asal Rusia dan Ukraina diadili di PN Denpasar karena pencurian

Dalam persidangan, pengacara terdakwa menguraikan sesuai dengan yang terlampir dalam surat eksepsi, yaitu dalam perkara ini, tempat kejadian (locus delicti) berada di wilayah Kuta Selatan, Badung, untuk itu secara hukum yang berwenang menuntut adalah Kejaksaan Negeri Badung. Namun, sesuai dengan fakta persidangan bahwa yang saat ini menangani perkara terdakwa, yaitu JPU dari Kejari Denpasar.

"Dengan demikian secara hukum kewenangan JPU pada Kejaksaan Negeri Denpasar untuk menuntut adalah hapus dan gugur," jelas I Nengah Sidia.

Baca juga: Seorang WNA divonis 9 bulan penjara di PN Denpasar

Seusai persidangan, pengacara kedua terdakwa yaitu I Kadek Putra Sutarmayasa mengungkapkan bahwa saat penangkapan dan pengeledahan di kediaman para terdakwa, pihak kepolisian tidak menyertakan surat bukti pengeledahan.

"Di berita acara, pada saat pengeledahan tidak ada ditemukan uang, tapi setelah penyitaan dari Robert ditemukan sebuah tas berisi uang. Menurut Robert, uang yang dia lihat di dalam tas saat penyitaan masih ada. Namun ketika sampai di konfrensi pers di Polsek uang itu menyusut sampai 70 persen," kata Putra Sutarmayasa.

Dengan begitu, menanggapi eksepsi terdakwa, Jaksa Penuntut Umum, Ni Luh Oka Ariani Adikarini akan menyampaikan tanggapan tertulis, yang akan dibacakan pada sidang berikutnya.
Pewarta : Ayu Khania Pranishita
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019