Riset: Pandemi COVID-19 berdampak pada gender

Riset: Pandemi COVID-19 berdampak pada gender

Webinar bertajuk "Bagaimana Ilmu Sosial Humaniora Dapat Melindungi Kelompok Rentan Akibat Pandemi COVID-19" di Jakarta, Selasa (21/9/2021). (ANTARA/ Anita Permata Dewi)

Jakarta (ANTARA) - Riset memperlihatkan bahwa pandemi COVID-19 sangat berdampak pada kehidupan perempuan di sejumlah tingkat pendidikan.

Anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Dr. Zulfa Sakhiyya menuturkan di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD), kelompok yang paling rentan adalah guru PAUD.

"Pada level PAUD, kelompok yang paling rentan adalah guru PAUD yang notabene perempuan," kata Zulfa dalam webinar bertajuk "Bagaimana Ilmu Sosial Humaniora Dapat Melindungi Kelompok Rentan Akibat Pandemi COVID-19" yang diikuti di Jakarta, Selasa.

Alasannya karena banyak PAUD yang merumahkan para gurunya selama masa pandemi.

Kemudian di tingkat pendidikan perguruan tinggi, kelompok rentan terdampak pandemi adalah para akademisi perempuan.

Pihaknya mencatat para akademisi perempuan memiliki kinerja dan produktivitas yang menurun selama pandemi. Hal ini terjadi karena ada pengaburan batas antara ruang domestik dan ruang publik para akademisi perempuan itu.

Baca juga: Perempuan di Bali bertahan di tengah pandemi COVID-19

Baca juga: Menlu RI: Peran perempuan penting dalam tangani pandemi


"Mereka semakin susah mengelola batas karir dan peran domestiknya karena sekarang posisi di rumah. Misalnya ibu dosen ini, mereka harus handle pekerjaan mereka, di sisi lain harus menjadi ibu guru bagi anak-anak. Belum lagi bila ada orang tua di rumah yang membutuhkan perawatan," kata Zulfa.

Selain itu transisi metode pengajaran dari offline ke online memerlukan waktu tambahan persiapan. "Semua metode pembelajaran harus didesain ulang jadi daring," kata Dosen Universitas Negeri Semarang ini.

Beban ganda ini mengakibatkan kualitas kesehatan mental para akademisi perempuan menurun dan rentan terpapar COVID-19.

Riset juga menunjukkan bahwa mayoritas akademisi perempuan produktivitasnya menurun dalam publikasi ilmiah.

"63 persen dari responden kami mengaku tidak ada waktu tersisa untuk menulis dan publikasi. Pun kalau ada, mereka menulis di sisa waktu saat mereka sudah lelah, saat tengah malam, ini tentu berdampak menurunnya kualitas dan kuantitas publikasi mereka padahal produktivitas akademik adalah kunci utama untuk meningkatkan kapasitas dosen," kata Zulfa.

Baca juga: Menaker ajak anggota ASEAN lindungi pekerja perempuan selama pandemi

Baca juga: Komnas Perempuan: Kekerasan perempuan melonjak selama pandemi

 
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021