Anak penderita stunting di Banda Aceh mencapai 364 orang

Anak penderita stunting di Banda Aceh mencapai 364 orang

Ilustrasi - Refleksi pengendara motor melintas di dekat mural stunting di Jakarta, Rabu (16/12/2020). (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

Banda Aceh (ANTARA) - Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh mencatat jumlah anak yang menderita stunting di ibu kota Provinsi Aceh itu mencapai 364 orang hingga tahun 2021.

"Tahun ini kita hanya mencari data berapa angka stunting di Banda Aceh, dan ini akan kami laporkan ke BKKBN provinsi," kata Kepala DP3AP2KB Banda Aceh Cut Azharida di Banda Aceh, Rabu.

Cut Azharida mengatakan, karena 2021 ini pihaknya belum memiliki anggaran terhadap penanganan stunting, maka sejauh ini mereka belum bergerak. Namun, lebih kepada mencanangkan upaya pencegahan dan pembinaan untuk 2022 mendatang melalui bantuan provinsi atau pusat.

"Untuk tahun ini kita belum ada anggaran, mungkin tahun depan baru ada anggaran dari pusat, sekarang kita hanya lakukan pendataan gampong (desa) yang ada stunting, itu kita intervensi sejauh mana stunting berkurang di desa itu," ujarnya.

Azharida menyampaikan, salah satu upaya mereka dalam pencegahan stunting ini dengan melaunching rumah gizi di desa-desa, sehingga nantinya dapat dilihat sejauh mana perkembangan stunting di kawasan tersebut.

"Untuk di rumah gizi ada kegiatan dengan bekerjasama dengan PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), di sana juga ada pemberian gizi untuk balita, posyandu, dan berbagai kegiatan lainnya," katanya.
Baca juga: Dinkes Aceh Jaya: Kasus stunting masih tinggi
Baca juga: Pemerintah Aceh - UNICEF kerja sama perangi stunting


Cut Azharida menjelaskan, langkah yang dilakukan pihaknya dalam upaya pencegahan terjadinya stunting ini dimulai dari seribu hari kehidupan. Di mana pembinaan dilakukan mulai sejak menjadi calon pengantin, awal pernikahan hingga proses menyusui.

Kata Cut, DP3AP2KB Banda Aceh memiliki program sosialisasi pra nikah, dari situ pembinaan awal dilakukan, sampai seorang ibu melahirkan hingga menyusui anaknya, serta bagaimana memastikan asupan gizi saat hamil.

"Dari situ kita geraknya supaya stunting itu tidak kita temui. Pada saat ibu hamil kita sudah kasih arahan seperti apa, karena stunting itu berawal dari kehamilan, kekurangan gizi saat hamil berpengaruh ke stunting," demikian Cut Azharida.

Berdasarkan data DP3AP2KB Banda Aceh, adapun rincian 364 penderita stunting tersebut yakni dari wilayah Puskesmas Kuta Alam yakni Gampong Beurawe 24 orang.

Kemudian di wilayah Puskesmas Meuraxa yakni dari Gampong Lampaseh Aceh 19 orang, Surien 11, Gampong Baro 11, Aso Nanggroe 8, Lamjabat 14, dan Gampong Blang 16 orang.

Selanjutnya, pada Puskesmas Ulee Kareng dari Gampong Ceurih 16 orang, Doy 16 dan Pangoe Deah enam penderita. Lalu, dalam wilayah Puskesmas Lampaseh ada 19 orang dari Gampong Lampaseh Kota, Gampong Jawa 38 orang.

Dari wilayah Puskesmas Baiturrahman ada 23 orang asal Gampong Ateuk Munjeng, dan Peuniti 31 penderita. Kemudian, pada Puskesmas Lampulo yakni hanya 26 orang dari Gampong Lambaro Skep.

Terakhir, pada Puskesmas Banda Raya yakni dari Gampong Geuceu Komplek 22 orang, Geuceu Kayee Jato 10, Lam Ara 12, Lhong Raya 14, Peunyeurat 13, dan dari Gampong Lamlagang sebanyak 15 penderita.
Baca juga: Pemko Sabang lawan angka stunting melalui dana Geunaseh
 
Pewarta : Rahmat Fajri
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021