Perpusnas: Minat baca tinggi, hanya kekurangan bahan bacaan

Perpusnas: Minat baca tinggi, hanya kekurangan bahan bacaan

Ilustrasi - Seorang anak membaca buku koleksi dari Bemo Baca milik Sutino (60) bertepatan dengan Hari Aksara Internasional (HAI) di Jakarta, Selasa (8/9/2020). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc

Jakarta (ANTARA) - Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando mengatakan sebenarnya minat baca masyarakat Indonesia cukup tinggi hanya saja kekurangan bahan bacaan, terutama di daerah pelosok.

“Minat baca masyarakat Indonesia sebenarnya tinggi, hanya saja kekurangan bahan bacaan. Contohnya kalau ada motor atau mobil literasi yang datang, mereka semangat sekali untuk membaca,” ujar dia di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan hal tersebut yang menjadi penyebab masyarakat Indonesia dicap malas membaca. Penduduk Indonesia berdasarkan data BPS kurang lebih 270 juta jiwa, sementara jumlah bahan bacaan yang Perpusnas data di semua jenis perpustakaan umum (bukan di sekolah, perguruan tinggi, atau di rumah) 22 juta.

“Artinya rasio buku dengan total penduduk belum mencapai satu buku per orang per tahun (0,098), sedangkan di benua Eropa dan Amerika rata-rata sanggup menghasilkan 20-30 buku per orang setiap tahun. Angka ini cukup menguatkan bahwa orang Indonesia bukan malas membaca, tapi ketersediaan buku yang kurang,” kata dia

Ia mengatakan anak-anak tidak membaca buku karena berbagai faktor, yakni akses ke buku cukup sulit.

Baca juga: Pegiat literasi minta masyarakat perbanyak membaca saat pandemi

Jika masyarakat disodori buku-buku yang sesuai, katnaya, mereka akan senang membaca.

“Kemudian yang menyebabkan minat baca Indonesia rendah, yakni bukunya jelek-jelek. Jadi bukan salah orang Indonesia-nya yang malas membaca, tapi salahkan bukunya yang kebanyakan tidak menarik, bahkan sebagian merusak imajinasi anak,” kata dia.

Akibat kurang menariknya buku terbitan dalam negeri, katanya, anak-anak di banyak daerah menjadi gandrung dengan buku-buku terbitan atau terjemahan dari luar negeri yang lebih memikat.

Kondisi itu menyebabkan anak terasing dari lingkungannya sendiri. Banyak anak-anak di daerah yang lebih tahu soal hewan-hewan di belahan bumi lain ketimbang hewan-hewan di lingkungannya, karena mereka kekurangan suplai buku asli terbitan dalam negeri.

“Anak-anak lebih fasih berbicara tentang beruang kutub atau dinosaurus, ketimbang tentang kuda Sumba karena banyak dijumpai di buku-buku terjemahan. Tapi kalau tentang kuda Sumba atau tentang elang Jawa, harusnya ditulis oleh orang Indonesia sendiri yang lebih menarik,” kata dia.

Baca juga: Trainer Internasional gratiskan buku untuk Peringati Hari Santri!
Baca juga: Perempuan berperan penting tumbuh kembangkan budaya literasi

Pewarta : Indriani
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021