Tuai kritikan, Pekanbaru ganti tulisan merah "Keluarga Miskin"

Tuai kritikan, Pekanbaru ganti tulisan merah

Wali Kota Pekanbaru saat menandai rumah warga penerima Bansos. (ANTARA/Vera Lusiana)

Pekanbaru (ANTARA) - Pemerintah Kota Pekanbaru akhirnya mengganti tulisan merah "Keluarga Miskin" pada rumah warga penerima bantuan sosial pemerintah dengan stiker bertulis Keluarga Prasejahtera.

"Pemko Pekanbaru memasang tanda ini sebab dinilai tidak tepat sasaran, dan ada saran agar diberi tanda supaya tepat sasaran," kata Wali Kota Firdaus di Pekanbaru, Sabtu.

Sehari setelah peluncuran pemasangan tanda cat merah bertuliskan "Keluarga Miskin" di rumah warga penerima Bansos, Pemko Pekanbaru mendapat sorotan dan kritikan berbagai pihak.

Firdaus mengaku banyak menerima masukan dan juga kritikan, baik yang langsung maupun melewati media sosial. Semua itu diterima dengan baik sebagai masukan yang positif.

Baca juga: MUI Lebak haramkan keluarga mampu terima bantuan sosial

Baca juga: Daerah 3T dapat tambahan bantuan tetap PKH Rp1 juta


"Bahkan ada yang komen di medsos saya baca, 'Pak Wali sudah jelas itu rumah kayu, kenapa ditulis lagi, sudah jelas miskin kok dikasih tanda'. Apa pun kebijakan yang diambil tetap salah. Ini soal persepsi," katanya.

Firdaus bahkan mengibaratkan kondisi dan kebijakan yang diberlakukan oleh Pemko dinilai masyarakat seperti cerita kisah Abu Nawas. Dalam kisah itu, seorang bapak dan anak melewati empat negeri dengan seekor keledai.

Di negeri pertama yang mereka lalui, orang mengomentari sang bapak yang dianggap tega kepada anak lantaran si bapak naik keledai dan sang anak dibiarkan berjalan. "Itulah orang tua yang tega. Anak kecil begitu disuruh jalan. Dia enak naik keledai. Salah lagi," kata Walikota bercerita.

Di negeri kedua, gantian sang anak yang menaiki keledai dan si bapak berjalan. "Itu anak tidak sadar diri. Orang tua disuruh berjalan. Dia enak-enak di atas. Salah lagi," kata dia.

Lanjutnya, di negeri ketiga, keduanya naik keledai. Lalu dikomentari orang sebagai orang zalim. "Keledai kecil. Dia naik berdua. Mana sanggup keledainya. Betul-betul manusia zolim. Salah lagi," katanya.

Di negeri keempat, keduanya turun dari keledai dan memilih berjalan kaki dengan menggiring keledai. "Ini manusia dungu, keledainya ada tapi mereka tidak naik. Salah lagi," kata Walikota tersenyum.

Sebelumnya, Wali Kota Pekanbaru meluncurkan pemberian tanda cat merah bertuliskan "Keluarga Miskin Penerima Bantuan" pada rumah warga yang menerima Bantuan Sosial (Bansos) pemerintah.

"Ini tanda agar tidak terjadi tumpang tindih pemberian bansos kepada masyarakat ke depan," katanya.

Firdaus mengatakan, selanjutnya pemberian cat merah bertuliskan "Keluarga Miskin Penerima Bantuan" bagi rumah warga akan dikoordinir oleh camat, lurah hingga RW/RT masing-masing.

Nantinya semua rumah keluarga yang menerima bantuan pemerintah apapun jenisnya akan di cat merah tulisan tersebut, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang bertanya siapa yang menerima, serta tidak jelas dan terselubung.

"Ini juga akan jadi tanda konkrit bahwa bantuan-bantuan sosial yang disediakan pemerintah yang jenisnya ada empat kelompok dipastikan tidak tumpang tindih," kata Firdaus, didampingi Waki Wali Kota Ayat Cahyadi juga saat peluncuran pemberian tanda.

Diakuinya, niat pemberian tanda tersebut sudah pernah ada dua tahun lalu, namun tidak terwujud, maka dengan adanya musibah wabah COVID-19 saat ini, dimana ada model bantuan baru bagi mereka yang terdampak COVID -19.

Nantinya di bawah tulisan "Keluarga Miskin Penerima Bantuan" itu akan ada tulisan yang menjadi perbedaan penerima bansos, antara PKH, BLT, PTNP, BLT COVID-19.*

Baca juga: 19.860 keluarga miskin di Bantul akan mendapat BLT

Baca juga: 47 ribu lebih keluarga "miskin baru" di Banyuasin bakal terima BLT
Pewarta : Vera Lusiana
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020