Peneliti sebut ketahanan pangan lebih efektif dengan penguatan petani

Peneliti sebut ketahanan pangan lebih efektif dengan penguatan petani

Sejumlah petani beraktivitas menanam padi pada lahan pertanian di wilayah Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2020). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc.

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan penguatan produksi pangan dapat lebih efektif dengan memberikan fasilitas bagi para petani.

Felippa dalam pernyataan di Jakarta, Selasa, mengatakan fasilitas yang diberikan itu dapat berupa pemanfaatan teknologi, sarana prasarana dan kemudahan kredit usaha.

"Untuk mengatasi krisis pangan selama pandemi COVID-19, pemerintah seharusnya memperkuat produksi pangan yang sudah ada dengan memberikan fasilitas bagi petani," ujarnya.

Menurut dia, pemberian kemudahan bagi petani tersebut dapat mendorong produktivitas pangan dalam negeri dan meningkatkan penyerapan produksi.

Baca juga: Presiden Jokowi paparkan 3 jurus hadapi musim kering yang lebih berat

Selain itu, cara penyediaan pasokan itu bisa dilakukan juga melalui perdagangan internasional guna memastikan ketersediaan stok di dalam negeri.

Cara-cara seperti ini, tambah dia, lebih efektif untuk mendorong produksi pangan dibandingkan dengan rencana membuka lahan gambut di Kalimantan.

Ia menjelaskan pembukaan lahan sawah baru di lahan gambut, akan memakan waktu yang lama, mulai dari cara mengolah lahan hingga proses produksi.

Pengolahan lahan menjadi sawah itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar serta sangat tergantung pada jenis dan karakteristik lahannya.

Hasil pembukaan lahan juga kemungkinan tidak bisa memperkuat ketahanan pangan dan mengatasi krisis, bahkan hingga Ramadhan pada 2021.

Baca juga: Mentan sebut bantuan petani diberikan bukan dalam bentuk uang tunai

Selain itu, karakteristik tanah gambut sebagai lahan pertanian belum tentu cocok untuk penanaman padi sehingga berpotensi mengakibatkan gagal panen.

"Jika dilakukan tergesa-gesa, proyek pencetakan lahan sawah baru yang memakan modal besar ini, malah menimbulkan risiko gagal panen yang merugikan petani dan kerusakan lingkungan yang lebih besar," katanya.

Sebelumnya, pemerintah sedang mempersiapkan lumbung padi baru di Kalimantan untuk menjaga ketersediaan pangan dan mengantisipasi terjadinya kemarau yang lebih kering pada 2020.

Menurut rencana, kurang lebih ada 600.000 hektare lahan yang disiapkan yang terdiri atas 400.000 hektare lahan gambut dan 200.000 hektare lahan kering.

Optimalisasi lahan itu sebagai antisipasi terjadinya kekeringan pada Agustus 2020 dan ancaman kelangkaan pangan, seperti yang diperingatkan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).
 
Pewarta : Satyagraha
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020