Akademisi: Rencana lahan gambut untuk pangan punya nilai ekonomis

Akademisi: Rencana lahan gambut untuk pangan punya nilai ekonomis

Ilustrasi - Pemberdayaan masyarakat desa gambut olah lahan tanpa membakar. ANTARA/Yudi Abdullah/am.

Jakarta (ANTARA) - Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) Suwardi mengatakan rencana pemanfaatan lahan gambut mempunyai nilai ekonomis yang strategis dan bermanfaat bagi pengembangan budi daya komoditas pangan.

"Memang tidak semuanya dapat diandalkan punya manfaat ekonomis serta kompetitif. Namun keseriusan pemerintah untuk mengelola lahan gambut harus didukung," kata Suwardi dalam pernyataan di Jakarta, Selasa.

Suwardi menjelaskan budi daya pangan di lahan gambut dapat memberikan keuntungan ketika Indonesia mulai mengalami musim kemarau di fase tanam kedua.

Untuk itu ia mengusulkan agar pemilihan komoditas tanaman untuk budi daya di lahan gambut harus yang mampu berproduksi baik dan bisa memperbaiki kualitas lahan.

"Pemerintah Indonesia harus diapresiasi jika mengembangkan komoditas unggulan untuk kesejahteraan serta kualitas sumber daya manusia melalui lahan gambut," kata Suwardi.

Baca juga: Legislator soroti rencana cetak sawah baru di lahan gambut

Sebelumnya, pemerintah sedang mempersiapkan lumbung padi baru di Kalimantan untuk menjaga ketersediaan pangan dan mengantisipasi terjadinya kemarau yang lebih kering pada 2020.

Menurut rencana, kurang lebih ada 600.000 hektare lahan yang disiapkan yang terdiri atas 400.000 hektare lahan gambut dan 200.000 hektare lahan kering.

Optimalisasi lahan itu sebagai antisipasi terjadinya kekeringan pada Agustus 2020 dan ancaman kelangkaan pangan, seperti yang diperingatkan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

Baca juga: Pemerintah siapkan lahan lumbung padi baru di Kalimantan

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan Litbang Kementan sudah mengembangkan bibit khusus yang dapat tumbuh di lahan gambut untuk mendukung program ini.

"Produksi bibit yang cukup namanya Impara, bibit untuk rawa dan kita bisa berharap bibit ini bisa menuai hasil yang lebih baik, dibanding lahan gambut yang diasumsikan gagal itu," ujarnya.

Ia juga mengimbau petani segera mulai melakukan penanaman jelang musim panen pada Mei 2020 dengan memanfaatkan cadangan air tanah yang masih ada.

"Percepatan itu akan tersedia pada lahan existing kita, atau lahan irigasi teknis pada April-September ada 5,6 juta hektare, juga ada percepatan bantuan penyediaan benih untuk 2 juta hektare," kata Syahrul.

Syahrul juga mengakui bahwa sektor pertanian rentan terhadap cuaca, bencana dan hama, sehingga perlu ada penyiapan pipanisasi, pompa, dan sarana irigasi lain, termasuk menyiapkan lahan pertanian cadangan.

Baca juga: Kementan sebut cetak sawah perintah Presiden akan didanai BUMN
 
Pewarta : Satyagraha
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020