Pemerhati : Guru Berbagi hanya berorientasi pada konten

Pemerhati : Guru Berbagi hanya berorientasi pada konten

Seorang tutor merekam materi pembelajaran media daring dari aplikasi yang bergerak di bidang edukasi Pahamify di Sadewa Raya, Kelurahan Bantarjati, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/3/2020). ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/foc.

Jakarta (ANTARA) - Pemerhati pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji mengatakan program Guru Berbagi yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) hanya berorientasi pada konten.

"Guru Berbagi ini masih fokus pada konten. Pola pikirnya guru membuat konten untuk laman tersebut, padahal pada era sekarang konten tidak lagi relevan," ujar Indra saat dihubungi dari Jakarta, Rabu.

Portal Guru Berbagi diluncurkan Kemendikbud pada Selasa (31/3). Portal tersebut dapat diakses melalui laman https://guruberbagi.kemdikbud.go.id/. Portal itu bertujuan untuk mendukung proses pembelajaran jarak jauh yang dilakukan pada saat ini.

Para guru diminta untuk berpartisipasi dalam portal tersebut, dengan menuangkan praktik baik model pembelajaran daring yang sudah diterapkan di sekolahnya masing-masing.

Baca juga: Praktisi: Guru perlu beri motivasi siswa lakukan pembelajaran daring

Indra menambahkan, saat ini yang terpenting adalah bagaimana cara guru dalam melakukan pembelajaran daring. Jika hanya konten, Kemendikbud bisa meminta agar guru mata pelajaran terbaik di Indonesia untuk merekam caranya mengajar dan kemudian diunggah ke portal Rumah Belajar.

"Pembelajaran jarak jauh, idealnya bagaimana mengubah anak dengan pendidikan abad 21. Kalau sekarang masih fokus pada konten, anak masih diberi tahu bukan mencari tahu," terang dia.

Indra menjelaskan konsep pembelajaran abad 21 bukan lagi guru ceramah menggunakan aplikasi konferensi video, bukan pula menggunakan materi-materi animasi atau video seperti yang saat ini gencar dipromosikan sebagai bimbel daring, serta bukan juga memberikan pekerjaan rumah atau tugas yang banyak.

Melainkan model pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan siswa memecahkan masalah, berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, kreatif, dan inovatif dengan menggunakan teknologi digital sebagai alat kerja bukan sekedar menerima informasi.

"Ujung tombaknya tetap guru yang harus berada di depan sebagai teladan, di tengah sebagai fasilitator, dan di belakang sebagai motivator," kata Indra lagi.

Baca juga: Stafsus Mendikbud: Pembelajaran daring jangan dipersulit
Pewarta : Indriani
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020