SPBE Boyolali beroperasi normal pascaletupan elpiji

SPBE Boyolali beroperasi normal pascaletupan elpiji

Sejumlah armada truk sedang antrean mengisi tabung elpiji bersubsidi 3 kg paskaletupan gas, di SPBE Banyudono Boyolali, Jateng, Senin (24/2/2020) (ANTARA/Bambang Dwi Marwoto)

Boyolali (ANTARA) - Stasiun Pengisian Bulg Elpiji (SPBE) di Dukuh Krukeman, Desa Ketaon, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, sudah beroperasi kembali normal pascaletupan elpiji, dan menyebabkan 11 korban luka-luka.

Sri Sadono selaku koordinator SPBE Banyudono Boyolali, di Boyolali, Senin, mengatakan, sebanyak 11 korban mengalami luka-luka akibat terkena udara panas dampak letupan gas itu, kini delapan orang di antaranya masih dirawat di RS Hidayah, sedangkan tiga lainnya rawat jalan.

Sri Sadono mengatakan peristiwa adanya letupan gas tersebut terjadi SPBE Banyudono, pada Sabtu (22/2) sekitar pukul 14.20 WIB, berawal adanya bekerja yang membetel bangunan beton untuk memasang alat littest atau tempat mengecek tabung elpiji yang bocor, di dekat tempat pengisian elpiji. Pekerja saat membetel beton mengeluarkan percikan api dan menyambar bagian rongga bawah, sehingga terjadi letupan api.

"Kejadian tersebut menyebabkan para pekerjanya yang tidak jauh dari lokasi itu, terkena awan panas, sehingga 11 orang seperti mengalami luka bakar bagian muka dan tangannya. Namun, delapan orang kini masih menjalani perawatan intensif, dan terparah mengalami luka bakar sekitar 40 persen, sedangkan tiga lainnya sudah diizinkan pulang," kata Sri Sadono.

Delapan korban yang masih menjalani perawatan di rumah sakit yakni Wardoyo (46) dan Arfan Nur Wahid (18), keduanya warga Dukuh Ngaglik RT 13/RW 03, Desa Sambon, Kecamatan Banyudono, Choirul Sholeh (39), warga Dukuh Dawar, Desa Manggis, Mojosongo, Rifnan Nur Hidayat (24), warga Dukuh Gatak RT 12/RW 03, Desa Dukuh, Banyudono, Minarso (41), warga Dukuh Krukeman RT 23/RW 03, Desa Ketaon, Banyudono, Joko Hariyanto (31), warga Dukuh Pundung, Desa Ketaon Banyudono.

Dua korban lainnya, yakni Edi Haryanto (40), warga Dukuh Puluhkadang RT 01/RW 02, Desa Mojolegi, Kecamatan Teras dan Ahir Nugroho (32), warga Dukuh/Desa Ketaon RT 22 RW 03, Kecamatan Banyudono. Sedangkan, korban rawat jalan yakni Hardianto (34) warga Dukuh Cikalan RT 01/RW 01, Desa Ngaru-aru, Kecamatan Banyudono, Agus Atmojo (21), warga Dukuh Ngampo RT 03/RW 03, Desa Kismoyoso, Ngemplak, dan Fuad Saifullah (34), warga Dukuh Ringin RT 04/RW 02, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras.

Menurut dia, kedelapan korban yang mengalami luka bakar kini sudah mulai membaik dan mereka masih perlu perawatan intensif oleh tim dokter yang merawat di rumah sakit.

"Kejadian letupan gas itu, di runag terbuka dekat tempat pengisian. Pekerja yang membetel itu, bersebelahan dengan tempat pengisian elpiji atau jaraknya sekitar 3 hingga 4 meter," katanya.

Dia mengatakan letupan gas tersebut juga menyebabkan sejumlah pipa gas ditempat pengisian rusak akibat panas, tetapi setelah kejadian langsung diperbaiki, sehingga tidak mengganggu pengisian elpiji ke tabung.

SPBE Banyudono Boyolali yang berdiri sejak 2005 hingga sekarang telah melayani elpiji tabung 3 kg bersubsidi di wilayah Boyolali rata-rata sebanyak 20.000 tabung per hari.

"Kami setiap hari melayani sebanyak 41 hingga 42 truk muat gas elpiji tabung 3 kg, untuk wilayah Boyolali. Kami sudah melayani pengisian elpiji seperti biasa pascaletupan," katanya. 

 
Pewarta : Bambang Dwi Marwoto
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020