Penajam  (ANTARA Kaltim) - Para petani di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terancam tidak bisa menanam padi karena tidak tersedianya air untuk sawah-sawah mereka akibat musim kemarau panjang.

"Ini karena sebagian besar persawahan di PPU adalah sawah tadah hujan. Selesai panen kedua ini, kami para petani terancam tidak bisa tanam padi. Karena rata-rata sawah tadah hujan, kalau kemarau panjang pasti kekeringan," kata salah seorang petani di Desa Siderejo, Rudiyanto, Rabu.

Irigasi yang ada, lanjutnya, sudah tidak berfungsi lagi karena memang belum ada airnya. Karena itu sawah tidak mendapatkan pengairan saat musim kemarau ini.

Padahal, saluran irigasinya ada tapi tidak difungsikan untuk menyalurkan air ke sawah saat kemarau.

"Kami tidak tahu, saluran irigasinya ada. tapi bendungannya tidak pernah difungsikan lagi," ujarnya.

Menurutnya, saat ini petani panen rata-rata hanya 1,5 hingga 3 ton per hektare karena hampir enam bulan ini tidak turun hujan, dibanding jika kebutuhan air cukup mampu panen mencapai 5 hingga 5,5 ton per hektarenya.

"Luasan sawah saya setengah hektare, biasanya mampu panen hingga 3 sampai 3,5 ton per musim panen. Tapi ini hanya sekitar 1,5 ton, kalau dijual hanya dapat sekitar Rp.1.000.000 sedangkan biaya tanam hingga panen sekitar Rp2.000.000, kan rugi," kata Rudiyanto.

Sukeni, petani padi di Desa Babulu Darat, mengaku karena sawahnya mengalami kekeringan hanya panen sekitar 3 ton di atas lahan sawah seluas 1 hektare, yang biasanya di atas lahan 1 hektare mampu panen 5 hingga 5,5 ton.

"Penghasilan tidak bisa menutupi biaya tanam hingga panen, sewa traktor saja traktor saja sudah Rp900.000 untuk 3 petak sawah belum beli pupuk dan untuk upah tenaga yang bantu habisnya Rp.3.000.000. sedangkan panen hanya sekitar 3 ton, ya tekor," katanya.

Sedangkan, Camat Sepaku mengatakan, hampir tujuh bulan ini, para petani di Kecamatan Sepaku tidak ada yang menanam padi, karena kemarau berkepanjangan membuat semua lahan sawah kering, karena semua lahan sawah tadah hujan.

"Mungkin tahun ini, para petani di Sepaku hanya satu kali tanam saja. Para petani banyak beralih menanam tanaman holtikultura untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena lahan kering tidak bisa ditanami padi.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan (DP3K) Kabupaten PPU, Ahmad Usman mengaku, rata-rata hasil para petani padi di PPU menurun hingga 2 ton per hektare, karena panjangnya musim kemarau dibanding dengan tahun lalu.

"Hanya ada beberapa lokasi lahan sawah yang bisa tanam padi, yang ada irigasi saja. Selebihnya lahan tidak bisa ditanami padi. Dan rata-rata kemarin diempat kecamatan hanya panen sekitar 3 ton per hektarenya. Biasanya panen mencapai 5 hingga 5,5 ton per hektare," katanya.  (*)



Pewarta: Bagus Purwa
Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026