Hal itu dikatakan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut ketika memimpin rapat Komisi IV dengan pengurus Pecinta Kehidupan Indonesia (Prolife) Balikpapan, Rabu (23/5).
Prolife merupakan perkumpulan yang berupaya mempertahankan kehidupan bayi dalam rahim ibu. Organisasi ini juga memiliki misi mencegah penghilangan kehidupan dan kematian secara sengaja yang sering terjadi dilingkungan masyarakat, siswi sekolah, remaja, pemudi bahkan keluarga.
Ahmad Abdullah berharap Prolife dapat benar-benar membawa manfaat positif melalui program-programnya. Dirinya juga ingin Prolife dapat mencegah maraknya pergaulan bebas dan tindakan aborsi. Program-program yang dilaksanakan Prolife sebaiknya dapat membuat siapapun khawatir melakukan pergaulan bebas, apalagi aborsi.
"Jangan sampai karena merasa ada yang menangani soal dampak pergaulan bebas, justru membuat orang-orang berpikir menggampangkan , sehingga mereka tidak memiliki kekhawatiran," kata politisi yang aktif berdakwah ini.
Sementara anggota Komisi IV, H Abdul Djalil Fatah, mengaku sangat miris mengetahui hasil survei nasional yang menyebutkan 79 % pelaku sex bebas mengadopsi dari internet, 62,7 % remaja SMP sudah tidak perawan, 93,7 % oral sex adalah hal yang biasa, 200-300 bayi diaborsi setiap harinya, 15 juta siswa per tahun melahirkan tanpa menikah, 200 wanita mati tiap harinya akibat aborsi serta adanya catatan bahwa Indonesia menjadi peringkat ke tujuh negara pengakses pornografi.
"Ini tentu menjadi masalah serius bagi generasi ke depan, peran orang tua sangat penting dalam hal ini. Sehingga tidak hanya dukungan dari organisasi dan lembaga-lembaga sejenis Prolife saja yang dibutuhkan, namun juga dari lembaga pendidikan," kata Djalil Fatah.
Anggota Komisi IV lainnya, Zain Taufik Nurrohman berpendapat perlu perhatian pada warga-warga yang bekerja di perkebunan-perkebunan kelapa sawit, mengingat ada catatan tingginya terjadi hubungan intim sedarah (incest).
"Ini seperti tejadi di wilayah Bengkulu, di mana angka tingkat incest besar. Di Kaltim sendiri wilayah area perkebunan kelapa sawit juga luas, sehingga perlu mendapat perhatian," sebut politisi Partai Amanat Nasional ini.
Sementara Ketua Prolife Balikpapan, Alvon, mengatakan Prolife telah mengupayakan banyak hal untuk membantu serta mencegah free sex dan aborsi. Prolife sendiri membutuhkan dukungan dari DPRD Kaltim untuk men-support program Prolife.
"Sejak awal Prolife Balikpapan terbentuk pada 5 Agustus 2006, tercatat sudah 126 kasus yang kami tangani. Sosialisasi pada sekolah-sekolah juga telah kami lakukan, hanya memang hingga saat ini sekretariat Prolife di Balikpapan masih menggunakan rumah pribadi saya. Tentu ini menjadi keterbatasan bagi Prolife," katanya.
Hadir pula dalam pertemuan tersebut anggota Komisi IV lainnya, Yakob Ukung, Masitah, Lelyanti Ilyas dan Mudiyat Noor. (Humas DPRD Kaltim)
Editor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.