Sabtu, 21 Oktober 2017

Pendidikan Lingkungan Tak Cukup Hanya Dalam Kelas

id sdk 3, samarinda, retno, sasongko
Pendidikan Lingkungan Tak Cukup Hanya Dalam Kelas
Retno Sasongko (paling kanan) bersama siswanya setelah merawat SKM. (Antara Kaltim / ist)

Samarinda, (ANTARA Kaltim) - Seorang guru di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, mengatakan dalam mendidik siswa agar dapat memahami sekaligus mencintai lingkungan, tidak cukup jika hanya dilakukan dalam kelas tanpa terjun langsung ke lokasi.

 

       

"Untuk mencetak generasi tidak hanya pintar berteori, maka sejak dini harus dibiasakan sedikit teori yang dilanjutkan praktik, agar ke depan bangsa Indonesia tidak hanya memiliki penduduk yang hanya pintar bicara," ujar guru SDK 3 Samarinda Retno Sasongko di Samarinda, Sabtu.

 

       

Terkait dengan itu, maka ia kerap mengajak muridnya ke lapangan setelah mendidik tentang bagaimana seharusnya menjaga dan merawat lingkungan, karena lingkungan sangat luas sehingga anak didik perlu mendapat contoh kasus yang lebih spesifik tentang lingkungan yang wajib dijaga.

 

       

Misalnya, ketika belajar tentang lingkungan sekolah, maka siswa harus diajak menyapu halaman sekolah, menyapu kelas, memungut sampah yang berserakan, dan contoh dari guru membuang sampah pada tempatnya, kemudian minta anak melakukan hal yang sama di rumah masing-masing.

 

      

"Sedangkan untuk lingkungan luar sekolah, kami sering mengajak anak-anak turut membersihkan lingkungan, salah satunya adalah sudah beberapa kali ke Sungai Karang Mumus (SKM) Samarinda. Di sungai ini, kami ajak anak memungut sampah yang dibuang warga," ucapnya.

 

       

Saat di SKM, lanjutnya, Retno bersama kepala sekolah dan guru lain juga memberikan pengertian kepada siswa agar jangan mengikuti kebiasaan warga yang suka membuang sampah ke sungai, karena hal itu merupakan tindakan tidak terpuji yang dapat merusak kualitas air.

 

       

Apalagi SKM masih digunakan oleh PDAM sebagai bahan baku air bersih yang didistribusikan ke rumah warga, sehingga sangat tidak elok air yang merupakan tempat hidup banyak makhluk sungai dan masih dimanfaatkan warga tersebut, kemudian dikotori atau dijadikan tempat sampah.

 

       

"Selain mengajak siswa memungut sampah, kami juga mengajak mereka berwisata menyusuri SKM. Harapan saya, siapa tahu di antara mereka kelak ada yang mengenang bahwa SKM merupakan tempat wisata yang bagus dan kemudian tertarik ikut membangun wisata di sungai itu," tutur Retno.

 

      

Ia mengaku seringnya mengajak siswa merawat SKM juga untuk mendukung program Pemkot Samarinda dalam mewujudkan Kota Tepian (teduh, rapi, aman, dan nyaman) sekaligus mendukung Program HBS (hijau, bersih, dan sehat). *

Editor: Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0553 seconds memory usage: 0.53 MB