Samarinda (ANTARA Kaltim) -  Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (ForDAS) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menilai banjir yang kerap menggenangi Kota Samarinda, karena alam balas dendam dengan cara membuat sungai baru di jalan raya dan di tengah pemukiman.

"Di Samarinda banyak sungai yang hilang baik karena diurug, dibuat pemukiman, dipatok dan dijarah, maka alam balas dendam dengan membuat sungai-sungai baru hingga di tengah pemukiman penduduk dan jalan raya," ujar Ketua ForDAS Provinsi Kaltim Dr Mislan, M.Si di Samarinda, Jumat.

Sungai `jelmaan` akibat banjir yang dimaksud Mislan antara lain Sungai Vorfoo, Sungai Air Hitam, Sungai Wachid Hasyim, Sungai Antasari, Sungai AW Syahrani, Sungai Suryanata, Sungai Mugirejo, dan Sungai Gunung Kapur-Lempake.

Sungai dadakan di kawasan banjir itu muncul karena air sudah tidak mampu melewati sungai dan parit yang semakin sempit, dangkal, kotor dan bau.

Menurutnya, banyak yang melakukan rembug banjir tapi minim aksi, rendah komitmen, tidak bekerja keras, bahkan ada yang ingin demontrasi dan memilih berkumpul di tempat-tempat strategis seperti Simpang Empat Lembuswana, Simpang Empat Sempaja, dan titik lainnya.

Ia juga mengatakan banjir merupakan bagian dari proses alam menjaga keseimbangan, menjaga lebar sungai, menjaga kedalaman sungai, menyapu sampah dan limbah, mencuci air berkualitas buruk, memberikan sirkulasi hara dan oksigen biota air, dan manfaat lainnya.

"Banjir mengambil banyak tugas kita. Tak banyak dari kita yang peduli dan membersihkan sungai, justru yang banyak adalah mematok, menguruk, menjarah dan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah," ujarnya.

Banjir juga memberikan kesempatan bagi warga untuk tangguh terhadap bencana, mengubah respon darurat menjadi pengurangan resiko bencana, sehingga semua harus berlatih menghadapi banjir yang lebih parah.

Hal yang terpenting adalah banjir menjadi pengingat bahwa tiap individu punya tanggung jawab mengelola daerah aliran sungai (DAS) tetap baik, merawat sungai, tidak tamak terhadap sumberdaya alam, dan menyadari semua ini milik generasi penerus.

"Alhamdullilah, banjir di Samarinda bukan banjir bandang, tetapi genangan besar karena airnya bingung dan tersesat. Supaya airnya tidak tersesat dan membuat sungai baru, mari kita bersama-sama menormalkan parit dan daerah aliran sungai," ujar Mislan.(*)

Pewarta: M Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026