Samarinda (ANTARA) - Sebanyak 28 desainer memamerkan 224 koleksi busana dalam ajang perdana Borneo International Fashion Festival (BIFF) 2026 di Samarinda, Kalimantan Timur, guna membawa wastra lokal menembus pasar global.

Chairwoman sekaligus Pendiri BIFF 2026 Yulia Hadi di Samarinda, Minggu, mengatakan ajang ini berawal dari perjalanan Pandawi, sebuah merek (brand) yang dibangun dari kecintaan terhadap budaya dan karya lokal Borneo.

Melalui perjalanan tersebut, pihaknya melihat besarnya potensi desainer, artisan, UMKM, hingga generasi muda di Kalimantan yang kaya akan cerita kuat, namun masih membutuhkan akses pasar yang lebih luas.

"Apa yang kita miliki di Borneo layak untuk dilihat oleh dunia," ujar Yulia.

BIFF 2026 berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 dengan parade peragaan busana utama dilaksanakan pada 3 dan 4 Oktober. Festival ini resmi dibuka di Odah Etam Kantor Gubernur Kaltim, Sabtu malam (3/10).

Ajang ini mengusung semangat "From Borneo for the World" yang mempertemukan kreativitas, warisan budaya, serta peluang industri fesyen dan ekonomi kreatif Indonesia serta Australia.

Rangkaian kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Pandawi Wastra Borneo, Javabor Balikpapan, Aemtobe, Pemerintah Provinsi Kaltim, Dekranasda Kaltim, Diskominfo Kaltim, serta Disperindagkop dan UKM Kaltim.

Yulia menjelaskan BIFF tidak hanya dirancang sebagai ajang peragaan busana semata, tetapi juga sebagai platform yang menghubungkan budaya, komunitas, kreativitas, dan bisnis.

Hal tersebut diwujudkan melalui berbagai rangkaian kegiatan pendukung, seperti UMKM Expo, pameran wastra, pertunjukan budaya, fashion talk, serta business matching yang mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli dan mitra usaha.

Ia menegaskan, upaya membawa produk lokal menuju pasar internasional bukan berarti meninggalkan identitas budaya. Sebaliknya, identitas dan kekayaan budaya lokal justru menjadi kekuatan pembeda utama dalam pengembangan industri kreatif.

"Menjadi global bukan berarti meninggalkan identitas kita. Identitas kita adalah kekuatan kita," ungkapnya.

Pada pelaksanaan perdana tahun ini, festival tersebut juga melibatkan 36 model untuk memperagakan ratusan koleksi yang ada. Keterlibatan ini menunjukkan besarnya potensi kolaborasi antara pelaku fesyen, kriya, UMKM, dan pemangku kepentingan dalam memajukan ekonomi kreatif di Kaltim.

Acara pembukaan BIFF 2026 turut dihadiri oleh Wakil Ketua Dekranasda Kaltim Wahyu Hernaningsih Seno Aji, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Pemprov Kaltim Siti Farisyah Yana, serta Kepala DPPKUKM Provinsi Kaltim Heni Purwaningsih.

Pembukaan juga dirangkai dengan penyerahan plakat apresiasi kepada para sponsor serta pemberian penghargaan kepada para desainer yang berpartisipasi.

Yulia menambahkan bahwa penyelenggaraan BIFF merupakan langkah awal untuk membangun jembatan dari lokal menuju global, sekaligus memperkuat jejaring pelaku ekonomi kreatif dari warisan budaya menuju masa depan.

"Kita tidak hanya membuka festival fesyen. Kita sedang membuka jembatan dari lokal ke global, dari warisan masa lalu menuju masa depan," pungkas Yulia.

Sementara itu, Kepala DPPKUKM Provinsi Kaltim Heni Purwaningsih menegaskan bahwa wastra dan kriya lokal bukan sekadar benda estetika, melainkan identitas yang dapat dikenakan, cerita yang dapat dilihat, dan budaya yang dapat dirasakan.

Heni menyebut BIFF 2026 sebagai ruang pertemuan antara tradisi dan inovasi, serta menekankan pentingnya membangun ekosistem mode yang adaptif agar produk budaya lokal tetap relevan dengan tren modern, memikat generasi muda, dan mampu memenuhi tuntutan pasar internasional.

Dari sisi UMKM, ia juga mengingatkan agar kualitas produk tetap menjadi pertimbangan utama sebelum dibawa ke pasar internasional.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim Ririn Sari Dewi menilai BIFF 2026 sebagai momentum strategis untuk memperkuat branding Kalimantan Timur di kancah dunia.

Ajang ini dianggap bukan sekadar peragaan busana biasa, melainkan wadah kolaborasi konkret untuk melakukan penetrasi pasar business-to-business (B2B), khususnya dalam membuka peluang kemitraan ekonomi kreatif dengan pihak internasional seperti Australia.



Pewarta: Arumanto
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026