Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Pelajar di sebagian besar wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, kembali masuk kelas mengikuti pembelajaran tatap muka mulai Selasa (29/9/2026), setelah sekitar dua pekan menjalani pembelajaran daring akibat kondisi udara yang terdampak asap kebakaran hutan dan lahan.
"Meski demikian, sekolah di Kecamatan Bengalon, Busang, dan Muara Wahau, masih menerapkan pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena kualitas udara di sana belum membaik," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono di Sangatta, Senin.
Kebijakan ini disesuaikan dengan hasil pemantauan kualitas udara yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Hasil pemantauan kualitas udara menjadi dasar pemberlakuan kembali pembelajaran tatap muka.
Ketentuan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Kepala Disdikbud Kutim Nomor B-100.3.4.2/6337/DISDIKBUD-1.1 tentang Pemberlakuan Kembali Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Lingkungan Satuan Pendidikan Kabupaten Kutim.
Dalam surat edaran itu disebutkan masa PJJ telah berakhir, kecuali untuk sekolah di Kecamatan Bengalon, Muara Wahau, dan Busang yang kondisi kualitas udaranya masih berada dalam kategori merah atau prioritas.
"Peserta didik pada jenjang PAUD, TK, pendidikan nonformal, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), SD, dan SMP negeri maupun swasta di wilayah lainnya mulai kembali mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah," katanya.
PTM dilaksanakan sesuai jadwal normal yang berlaku pada masing-masing satuan pendidikan. Meskipun kegiatan belajar mengajar kembali dilakukan di sekolah, ia mengingatkan satuan pendidikan tetap memperhatikan kondisi kualitas udara yang belum sepenuhnya normal.
Kembalinya aktivitas belajar di sekolah ini disambut lega oleh sejumlah orang tua yang selama PJJ harus mendampingi anak belajar dari rumah.
Bella, misalnya, seorang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Pemkab Kutim, mengaku lega karena anaknya kembali bersekolah seperti biasa setelah sekitar dua pekan belajar dari rumah.
"Tentu saya lega sudah selesai PJJ. Saya memang tidak cocok menjadi guru untuk anak sendiri. Terlebih saya harus membagi waktu antara pekerjaan dan membantu anak memahami pelajaran sampai menyelesaikan tugas sekolah," kata Bella yang anaknya sekolah di SD YPPSB Sangatta Utara ini.
Pewarta: M.GhofarEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.