Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengimbau kelompok masyarakat rentan tetap berhati-hati meski kualitas udara di wilayah tersebut sudah membaik, dengan kategori sedang, seiring berkurangnya kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya itu.
“Indeks kualitas udara tercatat berada di angka 76 berdasarkan hasil pengukuran pada Selasa (22/9) kemarin, sehingga secara umum masih aman bagi mayoritas penduduk, namun berpotensi memperburuk kondisi bagi kelompok yang lebih sensitif,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati di Sangatta, Rabu.
Ia menyebut hasil pemantauan tersebut mengacu pada data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons Kementerian Kesehatan.
Yuwana menjelaskan angka air quality index (AQI) 76 tergolong sedang, sehingga belum membahayakan masyarakat luas, namun dampaknya berbeda bagi mereka yang memiliki kerentanan lebih tinggi.
“Pada level ini aman bagi mayoritas penduduk, namun memperburuk gejala pada kelompok sensitif seperti anak di bawah 12 tahun, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskular,” ujar Yuwana.
Ia menegaskan kategori sedang bukan berarti bebas risiko. Perubahan kualitas udara sekecil apa pun dapat memengaruhi kesehatan kelompok yang lebih peka, maka Dinkes Kutim mengeluarkan sejumlah anjuran sederhana namun penting guna melindungi kesehatan warga.
Langkah pencegahan yang disarankan meliputi pengurangan aktivitas di luar ruangan, pemakaian masker saat berpergian, serta memperbanyak minum air putih agar saluran pernapasan tetap lembap, sehingga hal ini diharapkan dapat menurunkan risiko terpapar partikel udara yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Ia menyebut kondisi kualitas udara tersebut telah disampaikan kepada Bupati Kutim, Wakil Bupati, sekretaris daerah, serta seluruh kepala perangkat daerah, sebagai bagian dari pemantauan berkelanjutan.
Pihaknya akan terus memantau perkembangan kualitas udara, mengingat kondisi dapat berubah sewaktu-waktu seiring perkembangan cuaca dan potensi asap kebakaran hutan dan lahan.
"Kewaspadaan tetap diperlukan. Kami meminta masyarakat, terutama yang memiliki anggota keluarga rentan, tetap menjaga diri hingga kualitas udara benar-benar membaik secara berkelanjutan," kata Yuwana.
Pewarta: M.GhofarEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.