Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Kota Samarinda, Kalimantan Timur mengakhiri pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan mengembalikan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka mulai Senin, menyusul kualitas udara dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membaik.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda Neneng Chamelia Shanti di Samarinda, Senin, menjelaskan kebijakan PJJ sebelumnya diberlakukan selama tiga hari, yakni pada 17-19 September 2026.
"Keputusan untuk menerapkan kembali belajar secara tatap muka ini menyusul membaiknya kualitas udara. Hasil evaluasi menunjukkan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada di angka 28 atau masuk kategori baik," kata dia setelah mengikuti Rapat Koordinasi Evaluasi PJJ Dampak Karhutla di Kota Samarinda secara daring.
Meski sekolah tatap muka dimulai kembali, ia menegaskan pihak sekolah harus tetap menerapkan protokol perlindungan bagi peserta didik, seperti penggunaan masker dan pengurangan aktivitas di luar ruangan.
Guru juga diminta memantau kondisi udara secara mandiri agar bisa langsung mengambil tindakan jika situasi memburuk.
Pemkot Samarinda melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) segera menerbitkan surat edaran terkait dengan kebijakan ini ke seluruh satuan pendidikan.
Selain itu, pengawasan ketat akan dilakukan selama tiga hari ke depan guna memastikan lingkungan sekolah tetap aman.
Pemkot Samarinda tetap memperpanjang status tanggap darurat tahap ketiga sebagai bentuk kewaspadaan terhadap perkembangan karhutla.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso melaporkan kualitas udara di kawasan Taman Segiri terus membaik dalam tiga hari terakhir, meski ancaman karhutla masih diantisipasi.
Hingga 20 September 2026, BPBD mencatat 198 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar 428 hektare.
Kasus terbanyak di Kecamatan Palaran (63 kejadian), Sambutan (55), dan Samarinda Utara (35), sedangkan tingkat kelurahan, titik api terbanyak di Pulau Atas (24) dan Bantuas (23).
Sejumlah camat melaporkan kabut asap tipis masih terlihat pada pagi hari di wilayah yang dekat dengan lokasi kebakaran, namun kondisi tersebut berangsur membaik dan belum berdampak signifikan terhadap permukiman.
Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto Riza Arian Noor menyampaikan pergerakan asap yang sebelumnya meluas kini mulai bergeser mengikuti arah angin, sehingga paparan asap di Samarinda berangsur berkurang dibandingkan dengan kondisi pada 17 September lalu.
Dari sektor kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Samarinda melalui pemantauan di 26 puskesmas melaporkan kualitas udara secara umum dalam kategori baik.
Grafik peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah tersebut juga dilaporkan belum menunjukkan lonjakan yang signifikan.
Pewarta: ArumantoEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.