Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Kota Samarinda, Kalimantan Timur, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau dan kekeringan panjang melalui serangkaian langkah terpadu guna menjaga keselamatan lingkungan dan stabilitas ekonomi daerah.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun di Samarinda, Senin, menjelaskan langkah mitigasi yang dilakukan meliputi pembentukan Satgas Terpadu bersinergi dengan TNI-Polri, BNPB, BMKG dan relawan.
Upaya ini mencakup penyediaan air bersih, perlindungan sektor pertanian, pengendalian inflasi, pelaksanaan Shalat Istisqa, water bombing, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Menurut dia, penanganan kemarau di Samarinda tidak dilakukan secara parsial, melainkan bergerak secara simultan pada aspek kebutuhan dasar masyarakat, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi.
"Kita menghadapi kemarau panjang dengan seluruh instrumen yang tersedia. Satgas terpadu kita gerakkan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), distribusi air bersih, perlindungan pertanian, dan pengendalian inflasi," ujar Andi Harun.
Ia menambahkan, Pemkot Samarinda juga melaksanakan Shalat Istisqa sebagai ikhtiar spiritual, menyiagakan water bombing jika dibutuhkan, serta memperkuat ikhtiar berbasis teknologi melalui modifikasi cuaca.
Pemerintah Kota Samarinda sendiri telah resmi memperpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan selama 14 hari, terhitung sejak 8 hingga 21 September 2026.
Kebijakan ini diambil berdasarkan data evaluasi lapangan yang menunjukkan dampak kekeringan belum mereda, ditandai dengan menyusutnya volume air Waduk Benanga, mengeringnya sumur dangkal warga, serta terhentinya aliran di sebagian anak sungai.
Selain krisis air bersih, eskalasi kejadian karhutla di Samarinda dilaporkan melonjak tajam hingga mencapai lebih dari 152 kasus dengan luasan lahan terbakar menembus 275,21 hektare.
Di sektor pangan, Dinas Pertanian mencatat setidaknya 654,5 hektare lahan pertanian warga kini terdampak akibat minimnya pasokan air baku.
Menurut Andi Harun, pendekatan komprehensif tersebut merupakan bentuk kesiapsiagaan pemerintah secara dini, bukan sekadar respons reaktif setelah dampak kekeringan terjadi
Andi menegaskan, saat ini hal yang paling penting mencegah kemarau berkembang menjadi krisis air bersih, kebakaran lahan yang meluas, gangguan produksi pangan, maupun lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat.
Sebagai bagian dari rantai mitigasi tersebut, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dijadwalkan berlangsung pada 15–19 September 2026.
Waktu operasi diproyeksikan mulai pukul 07.00 hingga 20.00 Wita pada ketinggian penerbangan 8.000–12.000 kaki.
Terkait pelaksanaan OMC ini, Pemkot Samarinda telah mengajukan permohonan Notice to Airmen (NOTAM) dan melakukan koordinasi penerbangan intensif bersama otoritas Bandara A.P.T. Pranoto, AirNav, serta Lanud Dhomber Balikpapan demi memastikan keselamatan ruang udara selama operasi berlangsung.
Andi Harun menekankan bahwa OMC bukan langkah tunggal, melainkan bagian dari kesatuan rantai mitigasi kemarau yang telah dijalankan secara berkesinambungan oleh Pemkot Samarinda.
Pewarta: ArumantoEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.