Samarinda (ANTARA) - Bank Indonesia Kalimantan Timur (BI Kaltim) menyebut inflasi pada Agustus di provinsi ini terkendali berkat kuatnya sinergi dengan banyak pihak dalam menjalankan strategi 4K (keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif).

"Langkah pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik tingkat Kaltim maupun kabupaten/kota serta melibatkan banyak pihak," kata Kepala BI Kaltim Jajang Hermawan di Samarinda, Rabu.

Pada Agustus 2026, lanjutnya, indeks harga konsumen (IHK) Provinsi Kaltim mencatat inflasi sebesar 0,10 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,18 persen.

Secara umum, inflasi Agustus 2026 terutama disumbangkan oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, termasuk kelompok perawatan pribadi dan jasa lain.

Tekanan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan sejumlah komoditas pangan dari sentra produksi, seiring kondisi cuaca yang kurang kondusif dan dampak fenomena El Nino.

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami peningkatan sejalan dengan kenaikan rata-rata harga emas dibandingkan bulan sebelumnya.

Inflasi Kaltim tersebut berasal dari empat daerah yang menjadi patokan IHK, yakni Penajam Paser Utara sebesar 0,52 persen, Berau 0,46 persen, Samarinda sebesar 0,06 persen, sementara Balikpapan mengalami deflasi 0,03 persen.

Berdasarkan komoditas, inflasi Kaltim pada Agustus 2026 terutama dipengaruhi oleh daging ayam ras, cabai rawit, sekolah dasar, kacang panjang, dan jagung manis.

Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, antara lain angkutan udara, bensin, tomat, bawang merah, dan bawang putih.

Ia menjelaskan tentang strategi 4K yang dijalankan, yakni pada aspek keterjangkauan harga dilakukan gerakan pangan murah, operasi pasar, dan kegiatan stabilisasi harga lainnya untuk menjaga akses masyarakat terhadap komoditas pangan strategis dengan harga yang terjangkau.

Pada aspek ketersediaan pasokan, TPID bersama Bulog dan pemangku kepentingan terus mendorong pemenuhan pasokan komoditas strategis, penguatan penyediaan bahan pangan, serta peningkatan produksi pangan melalui penerapan teknologi pertanian modern.

Dari aspek kelancaran distribusi, TPID memperkuat koordinasi lintas sektor untuk memastikan rantai pasok komoditas strategis berjalan lancar, diantaranya dengan pemberian fasilitasi distribusi pangan.

"Sementara dari aspek komunikasi efektif, TPID secara rutin memperkuat koordinasi pengendalian inflasi bersama pemda dalam merespons perkembangan harga dan pasokan," kata Jajang yang juga Wakil Ketua I TPID Kaltim ini.



Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026