Samarinda (ANTARA) - Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kalimantan Timur melakukan optimalisasi bantuan ratusan pompa irigasi sebagai langkah mitigasi menyelamatkan sawah dari ancaman kekeringan musim kemarau.

"Penyediaan infrastruktur pengairan ini merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah guna memastikan petani tidak mengalami kerugian akibat musibah gagal panen saat cuaca ekstrem," kata Kepala DPTPH Kaltim Fahmi Himawan di Samarinda, Rabu.

Pemerintah menyalurkan program pengadaan sarana irigasi perpompaan di Kaltim dengan total volume mencapai 131 unit. Selain mesin tersebut, instansi terkait turut membangun fasilitas irigasi perpipaan sebanyak 93 unit untuk memperluas jangkauan distribusi air.

"Saat ini kami terus mempercepat tahapan verifikasi puluhan unit usulan irigasi perpipaan agar fasilitas pengairan lekas berfungsi membasahi lahan garapan kelompok tani," ujar Fahmi.

Untuk memaksimalkan adaptasi terhadap fenomena iklim El Nino, pemerintah menyalurkan sarana produksi berupa benih padi unggul varietas Inpari 32 serta varietas Mekongga.

Jenis benih padi ini dinilai pihaknya strategis mengingat keduanya teruji memiliki tingkat ketahanan tinggi terhadap paparan cuaca panas dan karakteristik tanah lokal.

"Kami juga mengerahkan petugas penyuluh secara proaktif untuk memberi edukasi mengenai manajemen pola tanam yang efisien di tengah keterbatasan pasokan air bersih," tutur Fahmi.

Sementara itu, operasional pompa penyedot air diakui membutuhkan biaya bahan bakar minyak cukup tinggi yang selama ini kerap membebani kondisi keuangan para petani.

Menyikapi masalah operasional tersebut, Pemprov Kaltim tengah melakukan koordinasi dengan Kementerian ESDM dalam memastikan dukungan fasilitas stasiun bahan bakar khusus bagi sektor pertanian.

"Akses energi khusus yang mudah dijangkau ini diharapkan mampu menekan biaya operasional harian sehingga margin keuntungan petani tanaman pangan kita tetap terjaga stabil," ucap Fahmi.

Upaya mitigasi ini ke depan diperkuat melalui program pencetakan lahan sawah baru seluas 15.298 hektare.

Dalam melengkapi intervensi fisik tersebut, pemerintah provinsi turut menyiapkan mekanisme alokasi asuransi pertanian guna memberi jaminan perlindungan finansial manakala sawah warga terkena musibah puso.

"Integrasi erat antara bantuan infrastruktur pengairan dan perlindungan asuransi ini menjadi pilar utama kami melindungi ekosistem kemandirian pangan daerah secara berkelanjutan," kata Fahmi.



Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026