Hingga kini para kelompok MPA di desa-desa selalu memantau perkembangan titik panas di wilayah masing-masing

Paser, Kaltim (ANTARA) - Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melalui unit teknis melibatkan masyarakat peduli api (MPA) dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah tingginya titik panas dalam beberapa hari terakhir.

"Hingga kini para kelompok MPA di desa-desa selalu memantau perkembangan titik panas di wilayah masing-masing," Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (UPTD KPHP) Telake Dinas Kehutanan Kaltim Shahar Al Haqq di Telake, Kaltim, Rabu.

Para anggota MPA tersebut pun sebelumnya sudah diberi pelatihan keterampilan baik terkait pencegahan maupun penanganan karhutla, termasuk tindakan yang harus dilakukan setelah terjadi karhutla.

Saat ini KPHP Telake setidaknya membina 12 kelompok MPA yang tersebar di desa-desa yang mencakup sebagian berada di Kabupaten Paser dan sebagian lagi di Kabupaten Penajam Paser Utara.

MPA yang sudah dilatih tersebut antara lain MPA Desa Sungai Terik, Kasungai, Batu Butok, Busui, Long Sayo, Muara Payang, Prayon, sejumlah MPA di Kecamatan Waru hingga Kecamatan Batu Sopang.

"Anggota MPA tersebut telah mendapat pelatihan peningkatan kapasitas tentang teknik pencegahan dan mengatasi kebakaran. Anggota MPA juga berperan sebagai fasilitator dan melatih warga tentang keterampilan yang dimiliki," katanya.

Sedangkan titik panas yang tergolong tinggi di Kaltim akhir-akhir ini, antara lain pada Selasa, 7 Juli 2026 BMKG mendeteksi sebanyak 68 titik tersebar di empat kabupaten, yakni 26 berada di Paser, 4 di Kutai Barat, 9 di Kutai Timur, dan 29 di Kutai Kartanegara.

"Sebanyak 26 titik panas di Paser tersebut berada di level 8 atau high confidence, sangat kuat karena polanya seperti kebakaran. Setelah dilakukan ground check, murni titik panas, bukan karhutla. Meski demikian, kami tetap waspada dan melakukan antisipasi untuk pencegahan," katanya.

Selain dengan MPA, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan komunitas lain dalam pencegahan karhutla, seperti kolaborasi dengan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), komunitas adat, bahkan hingga ke sekolah-sekolah sebagai edukasi.

"Kami juga melakukan pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat dalam menjaga hutan, seperti melalui sistem perhutanan sosial dan budidaya madu kelulut, sehingga mereka bisa memanfaatkan lahan maupun hasil hutan non-kayu di kawasan hutan," ujar Shahar.



Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026