Kutai Timur (ANTARA) - Desa Tepian Langsat di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, terus berbenah untuk menjadi salah satu gerbang utama menuju kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.

Kepala Desa Tepian Langsat, Zeky Hamzah, di Kutai Timur, Selasa, mengatakan Desa Tepian Langsat dinilai strategis karena berada di dalam kawasan gugusan karst Sangkulirang-Mangkalihat. Wilayah ini menyimpan kekayaan geologi, sejarah, dan budaya bernilai tinggi yang berpotensi mendukung pengembangan geopark berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

Ia menyatakan komitmen kuat warga dalam menjaga kelestarian lingkungan.

"Kami membentuk pos jaga hutan sebagai bentuk kepedulian masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan karst dan hutan di Tepian Langsat. Kami ingin warisan ini tetap terjaga untuk generasi mendatang," ujar Zeky memaparkan program desa kepada Tim Verifikasi Nasional saat melakukan penilaian langsung ke desa tersebut.

Salah satu objek vital yang ditinjau tim verifikasi adalah Goa Tewet di kawasan Gunung Gergaji. Goa ini merupakan situs purbakala ikonik yang terkenal dengan lukisan cap tangan prasejarahnya.

Dalam kunjungan tersebut, tim verifikasi mengapresiasi upaya pelestarian kawasan karst yang tetap terjaga baik, meskipun sebagian wilayah sekitarnya beririsan dengan aktivitas pertambangan.

Zeky menjelaskan bahwa pemerintah desa tengah mengembangkan Goa Tewet sebagai destinasi wisata khusus berbasis konservasi. Salah satu rencana infrastruktur yang disiapkan adalah pembangunan dermaga guna memudahkan akses transportasi wisatawan.

"Goa Tewet merupakan aset budaya kelas dunia. Karena itu, pengembangannya harus tetap mengutamakan pelestarian, bukan sekadar mengejar jumlah kunjungan wisatawan," tegas Zeky.

Selain itu, Pemdes Tepian Langsat juga mengusulkan agar wilayah karst tersebut ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung. Langkah ini diharapkan mampu memberikan payung hukum yang lebih kuat demi perlindungan alam sekaligus membawa manfaat ekonomi berkelanjutan bagi warga sekitar.

Saat ini, kawasan Goa Tewet sendiri telah menyandang status sebagai cagar lindung tingkat provinsi.

Sejarah penemuan goa ikonik ini turut diulas dalam pertemuan tersebut. Cucu dari  Tewet,,sang penemu goa hadir bersama ayahnya untuk menceritakan kembali momen bersejarah pada tahun 1964.

Saat itu, Pak Tewet secara tidak sengaja menemukan goa tersebut ketika sedang berburu dan mencari sarang burung walet di dalam hutan.

Selain Goa Tewet, Desa Tepian Langsat saat ini sedang mengembangkan total enam destinasi wisata. Salah satu potensi besar lainnya adalah Gunung Kendoyan yang memiliki ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Pihak desa berencana membuka wisata pendakian di gunung ini, namun saat ini masih melakukan kajian mendalam terkait jalur pendakian agar tetap aman dan ramah lingkungan.

Pemberdayaan UMKM dan Kerajinan LokalUntuk mendukung perannya sebagai daerah persinggahan wisatawan, Desa Tepian Langsat mulai menggerakkan sektor ekonomi kreatif melalui galeri desa.

Berbagai produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dipamerkan untuk menarik minat pengunjung.Salah satu produk kuliner unggulan yang diperkenalkan adalah amplang Bengalon.

Tak hanya makanan, warga juga memproduksi produk kreatif berupa replika lukisan cap tangan purba dan ornamen khas karst di bawah tagline "Bumi Kita, Warisan Kita, Wisata bukan hanya menikmati alam, tetapi juga menikmati kuliner dan produk lokal masyarakat. Karena itu kami terus mendorong UMKM agar berkembang bersama Geopark Sangkulirang-Mangkalihat," tutur Zeky.

Melalui kunjungan ke Pusat Informasi Geopark ini, Tim Verifikasi Geopark Nasional mendapatkan gambaran utuh mengenai potensi besar yang dimiliki Tepian Langsat.

Seluruh kekayaan geologi dan budaya ini diharapkan menjadi modal kuat bagi kawasan Sangkulirang-Mangkalihat untuk meraih status Geopark Nasional, sebelum melangkah menuju target yang lebih tinggi, yaitu pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.



Pewarta: Arumanto
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026