Untuk itu, semua elemen mulai kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, dunia usaha, hingga masyarakat harus memperkuat langkah mitigasi agar dampak musim kemarau dapat ditekan sedini mungkin

Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Bupati Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, mengingatkan semua pihak untuk menjadikan kemarau panjang pada 2015-2016 sebagai pelajaran berharga untuk melakukan mitigasi kemarau panjang saat ini, guna memperkecil dampaknya.

Dampak kemarau panjang 2015-2016 di Kutim saat itu antara lain menurunnya debit air secara drastis yang menyebabkan sungai dan sumur kering, sekitar 700 hektare sawah di 18 kecamatan gagal panen, kebakaran hutan dan lahan, masalah kesehatan akibat gangguan asap, dan penurunan produktivitas perkebunan sawit.

"Untuk itu, semua elemen mulai kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, dunia usaha, hingga masyarakat harus memperkuat langkah mitigasi agar dampak musim kemarau dapat ditekan sedini mungkin," ujar Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Sangatta, Selasa.

Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau di Indonesia tahun ini akan lebih panjang dan kering akibat fenomena El Nino. Puncak panas diprakirakan pada Juli hingga Oktober dengan curah hujan dominan di bawah normal, meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan terutama di Kalimantan dan Sumatera.

Pengalaman Kutim menghadapi musim kemarau panjang pada 2015-2016 lalu, katanya lagi, merupakan pelajaran berharga yang tidak boleh diabaikan, karena belajar dari pengalaman tersebut menjadikan unsur yang terlibat di masa lalu menjadi lebih siap dan lebih tangguh.

Sementara fenomena El Nino tahun ini berpotensi memicu kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, menurunkan hasil pertanian, hingga mengganggu stabilitas harga pangan jika tidak diantisipasi secara terencana, sedangkan saat ini kondisi inflasi Kutim masih terjaga pada kisaran 0,83 persen.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutim, Sulastin, mengatakan telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif menghadapi kemungkinan dampak El Nino melalui pemantauan perkembangan cuaca, koordinasi dengan BMKG, dan memastikan kesiapan personel beserta peralatan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Pihaknya bahkan meningkatkan kesiapsiagaan bersama kecamatan, pemerintah desa, TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, dan relawan, sehingga kolaborasi banyak pihak ini diyakini makin optimal dalam mitigasi menghadapi kemarau, karena disedari penanganan bencana tidak bisa dilakukan sendiri.

Sulastin mengajak masyarakat yang mengelola lahan pertanian tidak dengan cara membakar, menjaga keberlangsungan sumber air, serta segera melapor jika menemukan titik api, sehingga kebakaran dapat dikendalikan sebelum meluas.

"Keberhasilan menghadapi dampak El Nino tidak hanya bertumpu pada peran pemerintah, diperlukan keterlibatan seluruh unsur dalam menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, serta membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya mitigasi bencana," katanya.



Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026