Samarinda (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur mempercepat infrastruktur hilirisasi sektor perikanan dengan menyiapkan fasilitas rantai pendingin atau cold storage guna menjamin mutu hasil tangkapan nelayan lokal.
"Akselerasi infrastruktur dan integrasi logistik ini menghadirkan rantai dingin dengan pembangunan pabrik es dan cold storage sehingga dapat menjaga mutu produk perikanan dari sentra produksi ke pengolahan," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kaltim Irhan Hukmaidy di Samarinda, Senin.
Ia mengatakan pembangunan sarana pengawetan ikan tersebut merupakan langkah pemerintah daerah mengimplementasikan hilirisasi sektor ekonomi biru demi melepaskan diri dari ketergantungan industri pertambangan.
Berdasarkan pendataan terkini, sejauh ini telah tercatat sebanyak 14 entitas bisnis di Kaltim yang sukses mengekspor sembilan jenis komoditas dengan andalan berupa udang beku serta ikan segar.
Selama periode Januari hingga Mei 2026, Provinsi Kalimantan Timur mencatatkan pencapaian ekspor hasil perikanan dengan total volume menembus 1.262 ton dan meraup nilai ekonomi sebesar Rp230 miliar. Pasar global yang secara rutin menyerap produk perikanan Kaltim antara lain adalah Jepang, Amerika Serikat, Taiwan, China, dan Malaysia.
"Melalui hilirisasi yang masif dan terintegrasi secara baik, kita tidak hanya mewujudkan ketahanan pangan tetapi juga memastikan kesejahteraan merata bagi seluruh masyarakat pesisir," kata Irhan
Fasilitas pembekuan tangkapan komersial tersebut diyakini pihaknya menjaga stabilitas pasokan bahan mentah agar kelangsungan industri pengolahan terus terjamin dan bebas dari risiko kebusukan, lanjutnya.
"Kita harus segera bergeser mengembangkan sektor hijau karena porsi Produk Domestik Regional Bruto dari pertambangan telah merosot drastis dari angka enam puluh persen menjadi sekitar tiga puluh persen," ujar pengamat manajemen perikanan Universitas Mulawarman Erwiantono.
Dia menilai peralihan strategis itu mendesak mengingat kontribusi kumulatif dari seluruh sektor ramah lingkungan saat ini baru sanggup menyumbang porsi sebesar 20 persen terhadap kekuatan perekonomian Kaltim.
Penerapan kurasi mutu berstandar internasional amat dibutuhkan sejak dari hulu apabila Kaltim menjaga mutu produk nelayan lokal yang bisa menembus pasar global, terutama di kawasan Asia Timur maupun Eropa.
"Apabila kita berhasil memetakan rantai pasok dan mengolahnya di pabrik lokal, maka nilai tambah ekonominya mengalir lebih besar sekaligus mencegah terjadinya kebocoran devisa regional," kata Erwiantono.
Pewarta: Ahmad RifandiEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.