Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, memperkuat rantai usaha komoditas aren mulai hulu hingga hilir, sebagai langkah strategis mengangkat ekonomi lokal karena sejak lama aren dibudidayakan masyarakat dan hingga kini hasilnya dinikmati secara berkelanjutan.

"Aren memiliki keunggulan besar untuk dikembangkan, mulai dari pohon, buah, hingga daunnya, semua bermanfaat, sehingga kami terus mengembangkan mulai hulu hingga hilir," ujar Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Perkebunan Kabupaten Kutim Aliansyah Saragih di Sangatta, Kutim, Senin.

Pengembangan mulai hulu adalah dari sisi penguatan kelembagaan petani hingga perlakuan kebun antara lain menyangkut lahan, bibit unggul aren genjah yang menjadi khas Kutim, sampai pada pola penanganan pascapanen.

Sedangkan, penanganan dari sisi hilir meliputi pemanfaatan aren hingga pemasarannya, yang dimulai dari pengembangan produk dari nira aren yang saat ini sudah dijadikan penghasilan keluarga oleh masyarakat menjadi gula aren merah, sirup nira, jahe nira, cuka, dan lainnya.

Produk gula merah terbanyak diproduksi oleh warga di Kecamatan Sangkulirang, Kaliorang, dan Teluk Pandan secara tradisional, sehingga pihaknya akan melakukan pembinaan dari sisi peningkatan mutu hingga kemasan agar bisa menembus pasar luar daerah.

Saat ini, nira aren juga sudah diolah menjadi gula semut dan gula premium dengan produk unggulan di Desa Kandolo, sedangkan aneka minuman dari nira sudah banyak dikembangkan oleh kelompok tani dan UMKM yang tersebar di Kutim.

Fungsi lain dari nira yang sudah dimanfaatkan di Kutim adalah buah kolang-kaling dijadikan buah aren segar atau manisan dan camilan yang kerap dijual di pasar lokal.

Sedangkan, bijinya dijadikan emping biji aren dan keripik tradisional oleh masyarakat pedesaan.

Kemudian, batang pohon yang sudah tua dijadikan material kayu bangunan ringan, bahan kerajinan, dan pati luluh dari empulur dijadikan pakan ternak.

Untuk daun dan ijuk dijadikan atap rumah atau gubuk, bahan sapu, anyaman. Serat kulit batang dijadikan tali dan bahan kerajinan tangan.

Untuk penguatan kelembagaan hingga membangun inti bisnis nira, pada Sabtu (4/7/2026), ia bersama Wakil Bupati Kutim melakukan studi lapang ke Pondok Pesantren Al-Hidayah, binaan PT Sultan Aren Indonesia (SAI), di Medan, Sumatera Utara.

Lokasi ini menjadi tujuan karena berhasil membangun rantai bisnis aren secara terintegrasi mulai dari penyemaian biji, perkebunan, pengolahan hasil panen yang beragam, pemberdayaan masyarakat, penguatan kelembagaan, hingga pemasaran.

"Aren yang dikembangkan SAI merupakan aren genjah yang bibitnya dari Kutim, sehingga terbuka kerja sama antara Pemkab Kutim dan SAI baik terkait pengembangan bibit unggul, peningkatan kelembagaan petani, pemasaran, dan lainnya, intinya untuk industri hulu hingga hilir," ujar Aliansyah.



Pewarta: M Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026