Kami menempatkan para juru pelihara di lokasi cagar budaya tersebut agar warisan bersejarah ini tetap terjaga sekaligus memberikan pendampingan informasi bagi masyarakat
Samarinda (ANTARA) - Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XIV Kalimantan Timur-Kalimantan Utara terus berupaya melindungi enam cagar budaya gua prasejarah di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dengan menugaskan para juru pelihara.
"Kami menempatkan para juru pelihara di lokasi cagar budaya tersebut agar warisan bersejarah ini tetap terjaga sekaligus memberikan pendampingan informasi bagi masyarakat," kata Kepala BPKW XIV Kaltim-Kaltara Titit Lestari di Samarinda, Sabtu.
Enam situs bersejarah yang dilindungi tersebut berlokasi di Desa Tepian Langsat, Kabupaten Kutai Timur, dan merupakan bagian penting dari kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat.
"Gua Tewet yang menyimpan keindahan gambar cadas purba saat ini secara khusus dijaga oleh seorang juru pelihara bernama Rusdiansyah," jelas Lestari.
Kawasan ceruk yang berada tepat di atasnya, yakni Gua Tewet Atas, kini dipelihara dan diawasi secara rutin oleh Johansyah.
Situs Ceruk Pindi yang memiliki bentuk terowongan dipercayakan perawatannya kepada Satriadi untuk memastikan kelestarian peninggalan arkeologis di dalamnya.
Seorang juru pelihara bernama Sugianor mendapatkan tugas untuk mengawasi Gua Tengkorak yang banyak menyimpan jejak aktivitas prasejarah.
Selanjutnya, kawasan situs Ceruk Karim dipelihara oleh Muhammad Hendra yang juga siap mendampingi setiap pengunjung di lokasi tersebut.
Sementara itu, Gua Gerigi Saleh yang memiliki ruang luas dengan ratusan motif gambar cadas purba dijaga oleh Stepanus Gung.
Menurut Lestari, kehadiran para juru pelihara di kawasan Kutai Timur ini tidak hanya berfungsi sebagai penjaga fisik situs, tetapi juga sebagai pemandu wisata edukasi.
"Para pengunjung dapat memperoleh informasi sangat mendalam mengenai sejarah, nilai penting, hingga kondisi terkini dari masing-masing cagar budaya," ungkap dia.
Disampaikan dia, para penjaga situs bersejarah tersebut juga selalu siap sedia membantu pengunjung dalam proses pengambilan foto dokumentasi selama menjelajahi area prasejarah itu.
BPKW XIV mengimbau masyarakat atau pengunjung untuk turut serta memberikan penilaian objektif terhadap kualitas layanan di kawasan warisan budaya ini.
Lestari menyatakan berbagai masukan dari pengunjung tentu dibutuhkan oleh pengelola sebagai bahan evaluasi demi meningkatkan kualitas layanan pelestarian situs bersejarah.
"Upaya berkelanjutan melalui program pendampingan mampu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan merawat jejak peradaban yang sangat berharga," ujar dia.
Pewarta: Ahmad RifandiEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.