Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur melakukan hilirisasi kelapa sawit untuk mendukung ketahanan energi nasional, karena sawit bukan hanya menghasilkan minyak goreng, tetapi juga bensin dan biomassa menjadi biofuel.
"Pemerintah daerah terus mendorong transformasi ekonomi, yakni dari daerah penghasil bahan baku menjadi pusat industri berbasis produk turunan, salah satunya komoditas kelapa sawit," kata Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Sangatta, Selasa.
Langkah ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat yang menempatkan sawit sebagai komoditas strategis nasional dalam mendukung ketahanan energi.
Kutim memiliki peluang besar dalam mendukung ketahanan energi terbarukan secara nasional, karena luas kebun sawit di kabupaten mencapai 5.29.586 hektare dengan produksi 7,76 juta ton tandan buah segar (TBS).
Ia menyebut produksi crude palm oil (CPO) juga luar biasa yang mencapai 4,6 juta ton, sehingga pada 2023 Kabupaten Kutim menjadi penghasil CPO terbanyak di Provinsi Kalimantan Timur.
Menurutnya, hilirisasi sawit tidak hanya untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Untuk itu, keterlibatan aktif perusahaan perkebunan dinilai penting dalam mendukung hilirisasi.
Baca juga: Desa Labangka-Uniba ajak petani sawit pupuk organik dari tandan
Ia menekankan perusahaan tidak hanya berorientasi pada produksi bahan mentah, tetapi juga diminta berkontribusi melalui hilirisasi industri yang berkelanjutan.
"Pemerintah telah menyiapkan fondasi kuat dengan menghadirkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) sebagai pusat pengembangan industri," katanya.
Kawasan ini dinilai strategis karena didukung akses logistik yang efisien, bahkan pelabuhan di kawasan itu juga berada di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadi lintasan perdagangan internasional.
Ia mendorong langkah konkret para pemangku kepentingan untuk mempercepat realisasi investasi di sektor ini, termasuk sejumlah perusahaan perkebunan dapat segera membangun pabrik pengolahan seperti kilang minyak (refinery) hingga pabrik biodiesel di KEK Maloy.
Dengan keberadaan industri pengolahan sawit di daerah, kata dia, pemda dan pihak terkait bisa menekan biaya logistik, meningkatkan daya saing produk, dan yang terpenting menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
"Ini bukan hanya peluang bisnis, tetapi juga bagian dari kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi investor yang ingin tumbuh bersama Kutim, baik investor lokal, nasional, maupun luar negeri," ujar Ardiansyah.
Baca juga: Prabowo akan buka industri pengolahan sawit dan jelantah jadi avtur
Pewarta: M.GhofarEditor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026