Penajam Paser Utara (ANTARA) - Pemerintah Desa Labangka, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, bersama Universitas Balikpapan (Uniba) mengajak petani kelapa sawit di desa itu mengolah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menjadi pupuk organik.
"Pendampingan dari perguruan tinggi dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di desa," ujar Kepala Desa Labangka Nasrudin ketika ditanya mengenai kerja sama dengan Uniba di Penajam, Minggu.
"Warga memberikan apresiasi terhadap peran aktif Uniba, karena memberikan solusi konkret bagi petani dalam mengelola limbah kebun," tambahnya.
Keterampilan baru yang didapatkan petani kelapa sawit Desa Labangka tersebut diharapkan mampu memangkas biaya perawatan kebun, juga meningkatkan hasil panen berkelanjutan.
Program kerja sama yang dijalin, kata Nasrudin, bisa diproyeksikan menjadi model percontohan bagi desa lainnya di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara.
Baca juga: Prabowo akan buka industri pengolahan sawit dan jelantah jadi avtur
"Pengolahan pupuk organik memperbaiki kesuburan struktur tanah yang sering rusak akibat penggunaan bahan kimia jangka panjang," jelas Wakil Rektor III Uniba Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Merry Krisdawati Sipahutar.
Potensi besar TKKS selama ini terabaikan, timpal dia lagi, sekitar 20 hingga 23 persen dari setiap satu ton tandan buah segar merupakan limbah yang bisa diolah kembali.
Apabila kebun menghasilkan ratusan ton kelapa sawit, maka puluhan ton limbah organik siap diolah setiap hari, tetapi tanpa penanganan yang tepat limbah berisiko mencemari lingkungan.
Jika limbah ditangani dengan tepat juga bisa menjadi peluang ekonomi baru, dan
penggunaan pupuk organik mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang semakin mahal, demikian Merry Krisdawati Sipahutar.
Baca juga: Perbaikan jalan Kota Bangun-Kenohan Kukar dibutuhkan Rp100 miliar
Pewarta: Nyaman Bagus PurwaniawanEditor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.