Mahulu, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur mengembangkan kawasan terpadu berbasis perhutanan sosial di Long Pahangai–Long Apari untuk menjaga kelestarian ekosistem, pemberdayaan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
"Untuk tahap awal telah dilakukan melalui pengumpulan data serta wawancara mendalam dengan berbagai pemangku kepentingan pada Februari lalu, sehingga saat ini prosesnya terus berjalan," kata Wakil Bupati Mahulu Suhuk di Ujoh Bilang, Jumat.
Selain itu, telah dilakukan lokakarya mengenai integrasi rencana pengembangan atau Integrated Area Development (IAD) Berbasis Perhutanan Sosial Bentang Lanskap Long Pahangai–Long Apari, sebagai upaya mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan kawasan berkelanjutan.
Lokakarya yang digelar di Ujoh Bilang pada Rabu (15/4) ini bagian dari rangkaian proses perencanaan yang terstruktur dan partisipatif, sehingga masyarakat terlibat dalam proses sejak awal.
Ia menjelaskan pengumpulan data hingga wawancara berhasil menghimpun beragam informasi aktual, meliputi kondisi sosial masyarakat, dinamika kelembagaan, potensi sumber daya alam, serta pola pengelolaan kawasan yang berkembang di lapangan.
"Dari data yang terkumpul itu kemudian menjadi fondasi awal dalam penyusunan draf Dokumen IAD Berbasis Perhutanan Sosial," kata Suhuk.
Baca juga: Mahulu gandeng ITN Malang cetak SDM kreatif-inovatif
Namun demikian, katanya, dokumen perencanaan tersebut masih perlu diuji, diperkaya, dan disempurnakan melalui dialog terbuka bersama para pihak yang berinteraksi langsung dengan kawasan tersebut. Hal ini menjadi esensi dalam pelaksanaan lokakarya tersebut.
Melalui forum ini, Pemkab Mahulu menegaskan komitmen mendukung seluruh proses penyusunan dokumen IAD Berbasis Perhutanan Sosial.
Dokumen ini menjadi panduan menentukan arah strategis dalam mewujudkan pengelolaan kawasan Long Pahangai–Long Apari yang terintegrasi, partisipatif, dan berkelanjutan, demi kesejahteraan masyarakat.
Hal itu, termasuk untuk keberlanjutan pengelolaan lingkungan, kelestarian alam, hingga keseimbangan ekosistem agar generasi mendatang masih bisa melihat keanekaragaman hayati di Mahulu.
Suhuk berharap, melalui forum konsultatif tersebut seluruh peserta dapat memberikan masukan yang substansial, baik berupa klarifikasi data, koreksi fakta di lapangan, maupun pandangan strategis terkait dengan arah pengembangan kawasan.
Ia menegaskan perencanaan yang baik, adalah perencanaan yang berakar pada kondisi nyata serta mampu menjawab kebutuhan riil di masyarakat.
Baca juga: Mahakam Ulu lanjutkan cetak sawah kejar target 141 hektare
Pewarta: M.GhofarEditor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026