Telake, Kaltim (ANTARA) - Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur (Dishut Kaltim) melakukan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pemberdayaan masyarakat lokal, seperti melalui pola perhutanan sosial, kampanye untuk hutan lestari sejak usia dini, dan lainnya.
"Untuk perhutanan sosial misalnya, kami mengizinkan lahan di kawasan hutan untuk ditanami berbagai tanaman buah, bahkan kami memberikan bibit buah unggul kepada warga di sekitar hutan," kata Kepala Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Telake Dishut Kaltim Shahar Al Haqq di Telake, Kaltim, Kamis.
Melalui pola ini, maka warga akan menjaga dan merawat tanaman maupun kebun mini mereka agar selamat, sehingga tanpa diminta oleh Dishut pun hutan akan mereka upayakan agar terhindar dari karhutla.
Terkait dengan kampanye pencegahan karhutla, hal lain yang dilakukan seperti pendekatan jiwa bagi anak dan remaja, yakni melalui berbagai jenis lomba, antara lain lomba karya tulis, baca puisi, melukis, dan mewarnai dengan tema hutan lestari.
Ia meyakini melalui aneka lomba akan dapat membekas di hati dan pikiran anak-anak, terlihat dari beberapa kali lomba menggambar yang pernah digelar di Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara, anak-anak mengekspresikan bagaimana seharusnya hutan dijaga dan bagaimana konsep hutan yang dikehendaki mereka.
"Sudah beberapa kali kami gelar kampanye tentang hutan lestari dan pencegahan kebakaran di wilayah kerja KPHP Telake yang melibatkan anak- remaja, dewasa, dan umum. Tentu tiap usia dan kelompok bentuk pendekatan yang kami lakukan berbeda," ujarnya.
Bahkan, lanjut ia, selama ini pihaknya juga memberdayakan masyarakat hukum adat (MHA), yakni komunitas yang bermukim di sekitar kawasan hutan karena mereka juga turut menjaga dan melestarikan hutan.
Sejumlah pembinaan yang dilakukan terhadap MHA antara lain budidaya madu kelulut, pemanfaatan aren hingga pembinaan terhadap pengolahan gula aren maupun gula semut.
"Pemberdayaan masyarakat ini merupakan bagian dari pembangunan ekonomi berkelanjutan. Komunitas adat selama ini sudah memanfaatkan hasil hutan non-kayu seperti rotan, madu hutan, budidaya madu kelulut, aren, dan lainnya," ujarnya.
Menurutnya, menjaga dan memelihara kelestarian hutan berikut ekosistemnya, merupakan bagian integral dari kegiatan pembinaan masyarakat baik di perhutanan sosial maupun di luar perhutanan sosial.
"Kearifan lokal masyarakat dalam mengelola hutan merupakan kegiatan yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi tradisi turun temurun, sehingga kami lanjutkan dengan penguatan dan pembinaan agar bisa lebih meningkatkan produksi sekaligus memperluas pasar," kata Shahar.
Baca juga: Potensi kebakaran hutan mulai muncul di daerah-daerah
Pewarta: M.GhofarEditor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026